Kamis, 25 Januari 2018

Meski Tubuh Lumpuh, Semangat Mengajar Tetap Tangguh

Suara riuh rendah santri sebuah TPQ sayup terdengar. Dari kejauhan saya melangkah mendekati sumber suara, menyusuri gang-gang sempit perkampungan padat penduduk kota Malang. Sesekali teriakan dan tawa yang melengking meningkahi irama hadrah yang sedang mereka mainkan. Semakin mendekat terlihat beberapaasatidz tampak kewalahan mengatur anak-anak yang berkejaran ke sana kemari.



Ustadz Winarto di tengah santri-santrinya


Di tengah keriuhan itu saya mendapati seorang ustadz dengan tubuh kurus duduk di atas kursi roda. Wajahnya yang teduh tak sekalipun menampakkan ekspresi kesal kepada anak-anak yang bertingkah. Justru senyum beberapa kali mengulas di bibirnya demi melihat tingkah polah khas anak-anak itu.

"Saya memang suka dengan dunia anak-anak. Jika tidak ada mereka, saya malah merasa sedih. Kesepian," ujarnya sambil sesekali membenahi sarung yang menutupi kaki kurusnya.

Satu lempeng papan kayu ia gunakan untuk menahan jarak antar kedua kakinya agar tidak saling menumpuk. Jari-jari tangan yang tertekuk kaku dan kaki yang tak dapat digerakkan cukup membuat nafas saya tercekat. Iba dengan kehidupannya. Tak terbayangkan betapa kerasnya kecelakaan yang ia alami hingga merenggut separuh kebebasannya. Praktis, sehari-hari ia menghabiskan waktu di atas putaran kursi roda.

Untuk bisa melakukan aktivitas sehari-hari, seperti mandi, berpakaian, dan sebagainya, Ustadz Winarto harus dibantu oleh istri atau santrinya. Maha Besar Allah, yang telah menganugerahi hati yang begitu lembut dan ikhlas pada istri beliau. Tanpa pernah berkeluh kesah, sang istri senantiasa membopong Ustadz Winarto, tatkala hendak melakukan sesuatu hal.

"Saya bersyukur telah dipilihkan istri yang begitu istimewa. Istri saya mendukung penuh dakwah yang saya lakukan. Luar biasanya lagi adalah, beliau bersedia membina keluarga bersama saya, kendati kondisi tubuh saya lumpuh," ujar Ustadz Winarto.



Ustadz Winarto dan sang belahan jiwa


Kami berbincang tentang masa lalu. Seputar tragedi kecelakaan yang dialami beliau. Waktu itu, Ustadz Winarto hendak mengajar Al-Quran di Pasuruan. Dalam perjalanan antara Malang-Pasuruan, ia mengalami kecelakaan hebat. Luka parah yang menimpa tubuh kurusnya, membuat ustadz berkacamata ini harus menjalani rawat inap dan operasi di RS. Yang ajaib, salah satu dokter spesialis yang merawat beliau, berujar, Ini aneh. Biasanya, untuk kasus kecelakaan berat seperti ini, pasien kami langsung meninggal di tempat. Tapi, ustadz Winarto bisa bertahan hidup.


Subhanallah Maha Murah Allah, Maha Besar Allah, yang memberikan kesempatan hidup kedua pada beliau. Walaupun setelah musibah itu, Ustadz Winarto harus menelan pil pahit: organ tubuhnya lumpuh. Syarafnya di area perut ke bawah sudah tidak dapat berfungsi. Dalam setiap aktivitas, ia harus duduk di atas kursi roda.

Meski demikian, lagi-lagi Ustadz Winarto bisa memahamkan dirinya, bahwa musibah ini justru menguatkan ghirah (semangat) untuk mengemban amanah dakwah.

"Yang saya yakini, Allah tentu punya maksud tertentu, mengapa Ia mengizinkan saya untuk tetap hidup. InsyaAllah, saya diberikan tambahan umur, karena Allah menugaskan saya agar tetap berjihad di ladang dakwah, ucapnya tenang. Satu hal yang saya syukuri pula,Alhamdulillah, yang lumpuh adalah tubuh bagian bawah. Saya tidak mengalami gegar otak, sehingga masih bisa mengajarkan Al-Quran," begitu ujarnya. 


Allahu Akbar.! Tubuh saya merinding dan bergetar hebat, demi memaknai untaian syukur yang terurai dari kalimat beliau. Hal yang tampak sangat buruk sekalipun, bisa menjadi sebuah ladang amal yang indah, asalkan dibingkai dalam rasa syukur yang mendalam. Apapun skenario Allah, senantiasa menjadi sarana untuk terus
melantunkan syukur.

Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui. (Al-Baqarah: 216)

Bukan hanya dakwah lisan. Ustadz Winarto juga terinspirasi kalimat Ali bin Abi Tholib, Ikatlah ilmu dengan menulis. Puluhan artikel seputar keislaman ia lahirkan. Media massa besar kerap memuat opininya yang bernas dan tajam. Tak puas berbagi gagasan lewat media massa, beliau juga mengumpulkan artikel inspiratif, dan menerbitkan sebuah buku. Judulnya, sangat catchy,Kukuruyuk! Buku ini dikemas dengan gaya yang ringan, tapi berisikan kumpulan hikmah yang amat berisi. Tentang bagaimana menjalani hidup secara Islami. Tentang bagaimana kita mengisi hari, dengan beragam amal yang mendatangkan keberkahan dari Allah.


Putri Ustadz Winarto berlari-lari kecil di antara kami. Sesekali, ia memeluk ayahnya. Ayah yang berjiwa besar. Ayah yang mampu menerbitkan rasa bangga akan Islam. Bahwa siapapun yang menolong agama Allah, maka Allah akan mempermudah urusannya, baik di dunia maupun di akherat.

Hari itu, kota Malang terasa panas. Tapi, hati saya dingin dan nyaris membeku, demi mendengar kalimat penggugah jiwa dari Ustadz Winarto. Beliau mengajarkan kepada kami, bahwa sabar dan syukur adalah dua entitas signifikan, yang tak boleh lepas dari jiwa seorang muslim. Beliau menularkan sebuah nilai pada kami, bahwa sejatinya, hal baik dan hal buruk adalah semata-mata ujian dari Allah. Ujian keimanan untuk kita semua.

Bersyukur saya bisa belajar ilmu ikhlas pada keluarga kecil ini. Keluarga sederhana, yang senantiasa memancarkan semangat tak kunjung padam, untuk selalu menebarkan sikappositive thinking. Keluarga yang sekilas tampak biasa-biasa saja, namun penuh dengan suntikan inspirasi untuk membumikan dakwah di muka bumi. Kombinasi pasutri yang memegang teguh semangat untuk mencerdaskan anak bangsa.
Dan, di mata saya, keluarga Ustadz Winarto adalah sosok superhero yang sesungguhnya.(*)

19 komentar:

  1. Ya allah, terharu :')
    Kenapa postingan-postingan kayak gini selalu bikin mau nangis ya. Jadi berasa nggak ada apa-apanya dibanding mereka yang terbatas tapi berjuang semampu-mampunya

    BalasHapus
  2. Subhanalloh, butuh bgt orang-orang seperti itu saat ini. Keren! Bangga!

    BalasHapus
  3. Moga-moga Pak Ustadz diberkahi kesehatan, kesabaran dan tetap semangat untuk mengajar.amiiin

    BalasHapus
  4. Ya Raab, inspiratif banget. Tidak ada kata menyerah, selama nafas dikandung badan

    BalasHapus
  5. Aku jadi malu ih masih suka mengeluh sedangkan dengan kondisi nya yang kurang sempurna pak ustadz tetep semangat.

    BalasHapus
  6. Membuat kita makin bersyukur..

    BalasHapus
  7. Allah maha pengasih dan penyayang. Sehat selalu pak Ustad dan keluarga. Semangat berbagi ilmu untuk kita semua jangan berhenti.

    BalasHapus
  8. Nasehatnya yang menarik mbak... semangat mengajr beliau menginspirasi, semoga ALLOH berkenan memberi kelimpahan rezeki dan keberkahan hidup...

    BalasHapus
  9. Luar biasa ustadz winarto ini karena tetap berdakwah. Salut juga pada istrinya. Semoga mereka selalu diberkahi sepanjang hidupnya.

    BalasHapus
  10. Subhanallah. Luar biasa pa Ustad. Inspiratif banget mba. Semoga beliau selalu sehat.

    BalasHapus
  11. Subhanallah.. Ustadz winarto dengan segala kekurangannya tetap bisa mengajarkan ilmu agama kepada anak2 bahkan penulis buku juga.
    Sungguh sangat menginspirasi.

    BalasHapus
  12. Keren yaa... Semoga bapaknya selalu diberkahi sepanjang hidupnya. Bisa jadi contoh teladan buat kita semua nih. Thanks for sharing ya mba :)

    BalasHapus
  13. Cerita yang sangat inspiratif, terharu dan bangga.

    BalasHapus
  14. Subhanallah..saya selalu salut dengan org2 seperti beliau
    Semoga keberkahan selalu terlimpah utknya

    BalasHapus
  15. wow cerita ttg ustad winarto ini inspiratif sekali. Thanks buat kisahnya.

    BalasHapus
  16. masya allah... semoga ustad selalu di berikan keberkahan..

    BalasHapus
  17. MasyaAllah, semoga Allah memudahkan segalanya untu beliau dan melimpahkan kasih sayang-Nya pada beliau...

    BalasHapus