Kamis, 25 Januari 2018

Para Penakluk Kemustahilan

Apabila rasa gundah gulana menyergap, buru-buru saya buka koleksi foto saya tentang Tiara Handicraft. Ada semilir rasa haru, yang datang tanpa diundang. Menyaksikan kiprah saudara-saudara saya, para penyandang difabel (different ability), yang tetap mengepakkan sayap semangat mereka… Sekaligus membuktikan pada dunia, bahwa mereka selalu mampu berkarya, dan menggerojok rasa bangga dalam dada…
301fc4a22392c5ea9d8464cc7479fa49_crafter
Para penyandang difabel, pekerja di Tiara Handicraft
39e39f4ee352bfbd18c6a522d712bb9b_mas-ucil
Bu Titik Winarti (kiri) dan Mas Acil,
Ngobrol asyik dengan Bu Titik
Ngobrol asyik dengan Bu Titik
Tiara Handicraft memang bukan UKM biasa. Di bawah komando Ibu Titik Winarti, Tiara Handicraft melesat menjadi UKM yang punya diferensiasi kuat. Ya, 90 persen pekerja adalah penyandang disabilitas.
Bicara soal istilah nih, Ibu Titik sendiri lebih suka melabeli mereka sebagai anak-anak difabel.
“Jangan disebut disable, karena secara tidak langsung kita men-judge sebagai orang yang tidak mampu mengerjakan apa-apa.Mereka ini punya kemampuan kok, tapi ya memang berbeda. Karena ada yang tangannya buntung, ada yang bermasalah di pendengaran, macam-macam. Tapi, saya yakin, mereka punya potensi, karena itulah saya menyebut para pengrajin di sini kaum difabel, different ability…” begitu ujar Bu Titik.
Tak hanya dipasarkan di dalam negeri. Produk Tiara Handycraft juga telah diekspor dan diminati banyak konsumen di mancanegara. Di antaranya, Brazil, Spanyol, Belanda, Amerika Serikat serta Singapura. Jaringan pemasaran yang mengglobal ini merupakan buah dari prestasi yang diraih Titik di tahun 2005.
Saat itu, Titik meraih penghargaan Microcredit Award dari pemerintah. Dia lalu berpidato di depan sidang Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), saat mengikuti pencanangan Tahun Internasional Kredit Mikro di markas PBB di New York, Amerika Serikat.
Saat ini, tren yang berkembang adalah, para konsumen akan membeli suatu produk berdasarkan personal story yang melekat di produk tersebut.
“Misalnya ada konsumen kami yang beli tas produk Tiara. Nah, di label harga, kami jelaskan bahwa produk ini digarap oleh penyandang tuna daksa. Maka, ia akan dengan senang hati bercerita ke rekan-rekannya bahwa ‘Hei, ini lho, saya pakai tas yang dibikin oleh penyandang difabel.’ Sudah bukan trennya orang-orang di Eropa berburu tas mewah. Mereka sudah bosan dengan itu semua. Justru yang diincar adalah produk-produk yang bernyawa, yang mengandung cerita dan menghidupkan ruh produk itu sendiri.”
Dan, memang saya langsung jatuh hati dengan produk-produk yang dikreasikan sepenuh cinta oleh mereka. Satu tas cantik berbandrol 100 ribu rupiah saja, langsung berpindah tangan. Tas ini bukan sekedar tas biasa. Tas ini adalah masterpiece, sebuah karya yang layak saya jadikan sebagai trigger, sebagai pemicu semangat, sekaligus menularkan jiwa tak kenal menyerah! Jiwa yang diusung oleh saudara-saudara kita para penyandang difabel.
Anda tahu, untuk memulai usaha “Tiara Handicraft” ini, Bu Titik hanya memanfaatkan pinjaman 500 ribu rupiah dari sebuah koperasi wanita di Surabaya. Dengan bekal cinta yang meluap,Bu Titik memberikan kesempatan berkarya pada kaum difabel.
“Mereka ini sebenarnya mampu kok! Mereka mampu melawan kemustahilan. Hanya saja, orang-orang kerap memandang sebelah mata dan tidak memberi kesempatan sama sekali bagi mereka. Walaupun tidak punya famili kaum difabel, saya terpanggil untuk ikut berkontribusi memberikan kesempatan bagi kaum difabel ini, agar unjuk kemampuan… Supaya masyarakat tahu, bahwa mereka mampu melakukan banyak hal, yang mungkin selama ini tak pernah kita duga,” lanjutnya.
“Selain itu, apa yang saya lakukan sekaligus menjadi ‘tantangan’ bagi mereka yang dianugerahi fisik lengkap. Apakah anak-anak muda yang punya organ tubuh lengkap juga memiliki semangat yang sama? Atau justru, anak-anak muda berfisik sempurna itu malah punya mental yang tidak sempurna? Yang gampang menyerah? Kalah sebelum berperang? Jangan mau kalah dengan teman-teman kita ini….!” tukas Titik.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar