Senin, 05 Februari 2018

Pempek Farina, Pengobat Rindu Masakan Palembang

Entah gimana awal mulanya, masakan daerah Palembang yang kecut-asem-segar-pedas itu menempati posisi tersendiri di relung kalbu dan lidah. Saya sukaaaaa banget dengan segenap kuliner yang ditawarkan wong kito. Yang paling kondang, tidak lain dan tidak bukan empek-empek alias PEMPEK.
Pempek favorit saya adalah PEMPEK FARINA. Ikannya tuh kerasa banget, karena terkadang demi menghemat operational cost, tidak sedikit bakul pempek yang cuma kasih perasa ikan.



Minggu, 04 Februari 2018

Berdamai dengan Diri Sendiri di Fisherman's Wharf California


Cuaca di San Francisco memang sukar ditebak. Terkadang dingin menusuk sumsum. Tapi, tidak jarang, matahari bersinar dengan garangnya. Kali ini, saya kudu menyerah pada hawa dingin yang menerpa kulit. Menyesal rasanya pakai baju biru casual ini. Kenapa musti kuabaikan saran dari Ivan? Yap, local guides asli Jakarta, yang sudah 15 tahun berdomisili di SF ini bilang, ”Layer is the key!” itu prinsip yang harus selalu dijalankan manakala beredar di kawasan California. Karena ya itu tadi, cuaca amat sulit ditebak. Yang awalnya kelihatan hangat… eh, bisa mendadak dingin brrrrr…!


“Duh, nyesel aku… nyesel banget…!”

Aku menyusuri kawasan Fisherman’s Wharf sambil menyilangkan kedua tangan di depan dada. Berharap kehangatan bisa muncul dari sana. Plus, disambi menggosok-gosokkan kedua telapak tangan. Nihil. Tak ada hasil.


Beberapa local guides dari negara lain melemparkan senyum. Kami belum kenal sebelumnya, tapi wajah-wajah yang super excited itu, menyadarkan saya bahwa…..

Heiiii… this is my once-in-a-lifetime experience! Lupakan soal jaket, prinsip ‘layer is the key!’ yadda yadda blablabla itu! Lupakan hawa dingin yang terus menerabas masuk! Just seize the day… enjoy your moment! Jangan focus pada kesalahan yang engkau lakukan pagi ini! Fokuslah selalu pada apa yang bisa kau perbuat supaya momen berharga ini tidak lenyap plassss begitu saja!

Chill, girl! Santaaaaaiiii!


***

Karakter dan personality saya laksana cuaca di SF: amat sukar ditebak. Saya sendiri—sebagai sosok yang dititipi roh, jiwa raga oleh Sang Maha Kuasa—juga kerap terjerembab dalam pertanyaan “Are you okay, dear nurulrahma?” Apalagi kalo lagi PMS. Wadaaawww, kadang saya nggak kenal dengan jiwa yang bersemayam di tubuh ini.

“Who are you?”

Sama seperti keputusan ‘bodoh’ di mana saya tidak mengenakan jaket/ outer ketika jalan-jalan di SF. Dalam hidup, banyaaaaak banget keputusan bodoh, konyol, aneh, yang saya lakukan. BANYAAAAK BANGET! Dan herannya, saya tuh impulsive abis. Bisa banget mengambil keputusan seketika, saat itu juga, dengan semena-mena.

Kemudian…. Yang muncul adalah…. Penyesalan…. Dan merutuki diri sendiri. What have you done anyway?




***

Terkadang, orang-orang di sekitar menilai saya baik-baik saja. Sama halnya ketika ibunda saya pada akhirnya berpulang. Ketika para pentakziah datang, saya memasang wajah, “I’m okay… saya ikhlas….” Tak perlu ada air mata yang mengalir di hadapan mereka. Saya tahan sekuat tenaga. Namun… sepekan… dua pekan kemudian…..

Tanggul air mata itu jebol juga.

Saya merutuki diri sendiri. Sebenarnya, gelagat tidak beres sudah muncul berbulan-bulan lalu. Ketika ibu mendadak malas makan. Ketika batuk ibu tak kunjung sembuh. Ketika ibu begitu sering berbicara tentang kematian.

KENAPA SAYA TIDAK PEKA?

Kenapa saya selalu merasa bahwa ibu adalah super-lady, strong woman, yang sigap dan siap sedia menghalau semua cobaan dan rintangan dalam hidup? Kenapa saya membiarkan ibu bertarung dengan problema hidup yang datang bertubi-tubi? Apa gunanya keberadaan saya sebagai anak beliau? Kenapa saya tidak suportif? Mana kontribusi saya?

Pertanyaan-pertanyaan itu datang bertubi-tubi. Termasuk, pertanyaan konyol yang tak perlu dijawab, ”Andaikata waktu itu saya nggak salah bawa Ibu ke RS yang pertama, mungkin nyawa Ibu masih bisa diselamatkan….Kenapa waktu itu saya justru bawa Ibu ke sana ya?”

Astaghfirullah…..

***

Sulit rasanya untuk memaafkan diri sendiri. Amat sulit. Saya mencoba untuk mengembargo diri, tidak terlibat dan berinteraksi dengan aneka forum kajian dekat rumah. Mengapa? Saya takut berjumpa dengan sahabat-sahabat Ibu. Di relung hati yang paling dalam, saya merasa…. tatapan mereka seolah “menyalahkan” saya. Anak yang nggak bisa mempersembahkan hal terbaik bagi Ibunda.

Setiap ada momen keislaman di masjid dekat rumah, saya sengaja datang terlambat. Supaya apa? Agar dapat posisi di shaf paling belakang, dan saya tidak perlu memasang wajah manis penuh senyum ulala di depan para sahabat ibu.

***

“So… how? You still feel it’s too cold here?”

“Hmmm… not really… I’m okay now.”




Saya memasang wajah “Aku baik-baik saja”. Yeah, terkadang kita bisa sedemikian santun pada totally-stranger-person, dan justru bersikap semau-gue pada orang yang demikian besar jasa dan pengaruhnya untuk hidup kita.

Kami menyusuri kawasan Fisherman’s Wharf ini… Menjumpai singa laut yang heboh berteriak, seolah memancing atensi para wisatawan. Dari kejauhan bisa kami saksikan Alcatraz, yap… penjara yang demikian legendaris itu.

“Banyak tahanan kriminal paling sadis yang dipenjara di Alcatraz. Mereka mencoba melarikan diri, dengan renang di sepanjang laut SF. Tapi tahu sendiri kan… cuacanya dingin banget seperti ini. Tahanan yang berusaha kabur itu, kebanyakan udah nggak jelas nasibnya. Kemungkinan besar, meninggal kedinginan ketika berusaha renang  di sini…”

Aku manggut-manggut mendengar penjelasan Karen, local guides moderator yang khatam banget seputar destinasi di SF.

Kabur dari penjara yang begitu menyeramkan.

Lalu berenang mengarungi samudera, dengan suhu yang minus.

Heiiii…! Mereka para criminal kelas wahid!

Dengan catatan keburukan yang begitu dahsyatnya, para tahanan itu sanggup memaafkan diri sendiri. Untuk kemudian, berusaha keras agar bisa lepas dari jerat penjara yang mengerikan. Barangkali, prinsip hidup mereka, lebih baik aku bertarung melawan dinginnya samudera… tidak masalah apabila nantinya aku hanya tinggal nama… tapi paling tidak, aku sudah berjuang untuk keluar dari penjara yang tidak manusiawi ini… dan aku memberikan bukti, bahwa sebagai manusia, aku memaafkan diri sendiri.



Maka…..

Ditingkahi sepoi angin teluk San Francisco…. Saya memejamkan mata, seraya bergumam pelan…..”Dear @nurulrahma… All is well….. Bersikap adillah pada dirimu…. Semua orang punya porsi salah dan dosa masing-masing…. Banyak hal yang terjadi di dunia ini, di luar kuasa dan kehendak kita, karena heiii…. siapa kita? Kita hanyalah makhluk lemah, sebutir atom di galaksi nan demikian perkasa… Kita hanyalah debu… dibandingkan segenap kekuasaan Sang Pemilik Semesta…. Maka…. Maafkan dirimu… Maafkan…. Just let everything happens…. Embrace your life and be thankful…





































Jumat, 02 Februari 2018

Hotel Aston Bojonegoro, Makanannya Super Enak!

Salah satu hotel wajib kunjung di Bojonegoro adalah.... ASTON!
Saya tiga malam menginap di sini, dan aseliiik.... PUAS BANGEEETTT dengan semua menu yang disajikan. Chef dan tim culinary di hotel ini jagoan paraaahh deh, dalam membesut aneka makanan dan ya ampuuun kok saya doyaaan ama semua-mua-muanyaaaa





Minggu, 28 Januari 2018

Review Nanny's Pavillon di Tunjungan Plaza Surabaya


Setelah bolak-balik menyusuri areal Tunjungan Plaza (TP) 4, saya pengin banget ngejajal makanan yang disajikan di Nanny's Pavillon. Areal dining-nya lucu banget. So instagrammable :) 

Menu yang saya pilih hari itu adalah Spicy Fried Rice alias nasi goreng yang rada pedas.

Aselik, ini lokasinya seru banget buat kongkow cantik 



Spectre, Jajaran Laptop Seri Premium dari HP

HP indonesia menghadirkan inovasi pada jajaran produk consumer premium, melalui laptop generasi terbaru, yaitu HP Spectre 13 dan HP Spectre x360 13.
Banyak banget keunggulan yang dibenamkan di laptop ini:
- Prosesor generasi terkini,
- Masa pakai batere yng lebih lama
- Layar berkualitas yang jelas dan tajam
- Desain yang ramping, berkelas, serta menonjolkan lekuk sudut yang tegas.


Ini adalah generasi kedua HP Spectre 13 (yang merupakan laptop dengan layar super tipis) sehingga asyik banget untuk dipakai bekerja maupun buat menikmati hiburan.
Layar resolusi hingga 4K dan audio yang lebih kencang, namun tetap terdengar nyaman dan jernih di telinga.

HP Spectre 13 dilengkapi fitur premium unggulan, antara lain: 
- Desain berkontur premium. Dibentuk dari aluminium CNC dan serat karbon, HP Spectre 13 dengan micro-edge bezel memiliki pilihan Ceramic White dengan aksen emas pucat. Atau Dark Ash Silver dengan aksen tembaga. Layarnya dilengkapi Corning Gorilla Glass dengan pilihan resolusi tinggi hingga 4K
- Pengalaman sensorik. Penempatan speaker di atas keyboard backlit berukuran penuh hingga ke tepi, tidak hanya memberikan suara jernih dan nyaring, tapi juga nyaman dalam mengetik.
- Keamanan login menggunakan Windows Halo dan fitur Video Chat, dengan sudut pandang 88 derajat. Juga dilengkapi kamera HP Wide Vision FHD IR
- Daya batere lebih besar dalam setiap milimeter: Masa pemakaian batere hingga 115 jam, juga teknologi HP Fast Charge yang memungkinkan pengisian daya dari nol hingga 50% dalam waktu 30 menit.





Jumat, 26 Januari 2018

Tips Menghilangkan Takut atau Phobia Terbang

Anda punya ketakutan ketika akan terbang? Suara panggilan penumpang di bandara laksana terompet/ sangkakala Israfil di telinga Anda?

Tenang. Don't be panic. Anda tidak sendirian, karena ternyata... tidak sedikit orang-orang yang mengalami ketakutan serupa. Khawatir dan ketakutan berlebihan (mengarah ke phobia), kerap dialami sejumlah manusia manakala akan, ketika, dan menjelang landing di pesawat.

Saya bikin status di FB, dan bertanya openly, apa solusi (yang semoga) jitu dan sangat bias diterapkan untuk menghalau rasa takut naik pesawat? Berikut di antaranya



(1). BERDOA 
Yap. ini adalah jawaban khas insan beriman. Doa yang membuat kita yakin, bahwa apa yang kita lakukan senantiasa mendapatkan petunjuk, bimbingan dan perlindungan dari Yang Maha Kuasa. Apapun takdir kehidupan, harus senantiasa kita rujuk pada keputusan Dia Sang Maha Segala. So... berdoa, adalah "senjata". Doa adalah amunisi handal yang membuat kita merasa mantab jiwa, bahwa all is well.

(2). PILIH MASKAPAI YANG MINIM GUNCANGAN 
Contohnya.... Garuda Indonesia.
Maskapai ini identik dengan karakter kapten pesawat yang amat smooth ketika take off maupun landing. Jadi, buat yang masih termasuk jajaran newbie dalam pengalaman naik pesawat (atau yang nggak newbie tapi sering terjerat ngeri tak berkesudahan), ada baiknya pertimbangkan untuk pilih maskapai yang oke dokey ketika terbang mengangkasa.

(3). PILIH JAM PENERBANGAN PAGI ATAU SIANG 
Apalagi kalau cuaca sedang tidak beraturan seperti sekarang, rentang waktu pagi atau siang biasanya lebih tenang

(4). CARILAH TEMPAT DUDUK DI LORONG/AISLE. 
Sebaiknya, jangan di samping jendela. Karena bakal berpotensi menambah rasa takut bin deg-degan.

(5). CARI TEMPAT DUDUK DI DERETAN DEPAN
Kenapa? Karena lebih sunyi, stabil, dan nggak glodak-glodak. Beda kalau ada di tengah (dekat sayap) ataupun di ekor. O iya, bagian depan itu juga relatif sepi dari lalu lalang penumpang ataupun kru pesawat.

(6). JANGAN DILAWAN! LEMESIN AJA, SHAY!
Ini jawaban dari Haryadi Yansyah alias Omnduut

"Ibuku termasuk yang phobia. Aku bilangnya gini, pertama, kalau ada guncangan, jangan dilawan. Belio suka badannya dikerasin gitu, tegang dan dalam pikirannya kalo goncangan = pesawat akan jatoh. Aku bilang berdoa, zikir dan ikutin aja alur goncangan dipesawat. 

Kedua, aku kasih fakta bahwa pesawat terbang adalah moda transportasi teraman di dunia. Ya ini dilihat dari prosentase kecelakaan dan jumlah penerbangan yang ada. Aku juga kasih tahu bahwa turbulensi itu gak masalah, yang jadi titik kritis itu pas landing dan take off. Jadi, dengerin apa aja instruksi FA (flight attendant)-nya dengan baik. 

Alhasil, sekarang terbang sendirian pun ibu berani. Tapi rute pendek sih, macam Palembang ke Pangkal Pinang atau Palembang ke Jakarta. Terakhir dia umroh juga sendirian. Keknya ini karena rasa kangennya sama baitullah mengalahkan rasa takut hehehehe."


 (7). SENGAJA JANGAN TIDUR KETIKA MENJELANG NAIK PESAWAT 
Supaya apa? Agar badan terasa capek banget, dan siap bobok pulessss ketika di pesawat. 

(8). BAWA ANTIMO atau KONSULTASI DENGAN DOKTER
Apabila masih belum bias tidur atau tak kunjung merasa capek, ada baiknya siapkan Antimo sejak dari rumah. Minum sesaat sebelum take off, supaya bisa tidur selama di udara. 

Senior saya bahkan mengidap claustrophobic dan dia konsultasi ke dokter, lalu diresepkan obat penenang, sebangsa Valium

(9). ALIHKAN PERHATIAN KE HAL-HAL LAIN
Kalau saya biasanya lihat film yang tersedia di in-flight entertainment. Ini lumayan bisa mengurangi rasa deg-degan, apalagi kalau ada turbulensi hebat di udara

(10). ADA TIPS LAINKAH DARI TEMAN-TEMAN?





















Kamis, 25 Januari 2018

Sebongkah Cinta untuk Adik-adik Survivor Kanker

Kalau boleh memilih, semua anak tentu ingin tetap bergumul dengan dunianya. Bermain, berbagi tawa, melesakkan mimpi dan mengejar cita….
Kalau boleh memilih, tak satupun anak yang mengizinkan keceriaan harinya tercerabut oleh penyakit ganas nan mematikan….
Kalau boleh memilih, para bocah ini tentu tak mau berkawan akrab denganmonster bernama kanker

Sayang… terkadang, hidup tak menawarkan banyak pilihan.

Ketika mimpi buruk itu datang, dan menjelma jadi peristiwa nyata yang tak mungkin dielakkan. Ketika raga harus menyerah dengan kanker yang sedemikian ganas, maka hidup seolah hanya sebuah jalan buntu. Tak ada pilihan lain. Para bocah ini harus rela mengenyahkan keluh. Menata mental, untuk kebal. Untuk tetap menapaki jejak hidup yang terasa sedemikian terjal.