Minggu, 28 Januari 2018

Review Nanny's Pavillon di Tunjungan Plaza Surabaya


Setelah bolak-balik menyusuri areal Tunjungan Plaza (TP) 4, saya pengin banget ngejajal makanan yang disajikan di Nanny's Pavillon. Areal dining-nya lucu banget. So instagrammable :) 

Menu yang saya pilih hari itu adalah Spicy Fried Rice alias nasi goreng yang rada pedas.

Aselik, ini lokasinya seru banget buat kongkow cantik 



Spectre, Jajaran Laptop Seri Premium dari HP

HP indonesia menghadirkan inovasi pada jajaran produk consumer premium, melalui laptop generasi terbaru, yaitu HP Spectre 13 dan HP Spectre x360 13.
Banyak banget keunggulan yang dibenamkan di laptop ini:
- Prosesor generasi terkini,
- Masa pakai batere yng lebih lama
- Layar berkualitas yang jelas dan tajam
- Desain yang ramping, berkelas, serta menonjolkan lekuk sudut yang tegas.


Ini adalah generasi kedua HP Spectre 13 (yang merupakan laptop dengan layar super tipis) sehingga asyik banget untuk dipakai bekerja maupun buat menikmati hiburan.
Layar resolusi hingga 4K dan audio yang lebih kencang, namun tetap terdengar nyaman dan jernih di telinga.

HP Spectre 13 dilengkapi fitur premium unggulan, antara lain: 
- Desain berkontur premium. Dibentuk dari aluminium CNC dan serat karbon, HP Spectre 13 dengan micro-edge bezel memiliki pilihan Ceramic White dengan aksen emas pucat. Atau Dark Ash Silver dengan aksen tembaga. Layarnya dilengkapi Corning Gorilla Glass dengan pilihan resolusi tinggi hingga 4K
- Pengalaman sensorik. Penempatan speaker di atas keyboard backlit berukuran penuh hingga ke tepi, tidak hanya memberikan suara jernih dan nyaring, tapi juga nyaman dalam mengetik.
- Keamanan login menggunakan Windows Halo dan fitur Video Chat, dengan sudut pandang 88 derajat. Juga dilengkapi kamera HP Wide Vision FHD IR
- Daya batere lebih besar dalam setiap milimeter: Masa pemakaian batere hingga 115 jam, juga teknologi HP Fast Charge yang memungkinkan pengisian daya dari nol hingga 50% dalam waktu 30 menit.





Jumat, 26 Januari 2018

Tips Menghilangkan Takut atau Phobia Terbang

Anda punya ketakutan ketika akan terbang? Suara panggilan penumpang di bandara laksana terompet/ sangkakala Israfil di telinga Anda?

Tenang. Don't be panic. Anda tidak sendirian, karena ternyata... tidak sedikit orang-orang yang mengalami ketakutan serupa. Khawatir dan ketakutan berlebihan (mengarah ke phobia), kerap dialami sejumlah manusia manakala akan, ketika, dan menjelang landing di pesawat.

Saya bikin status di FB, dan bertanya openly, apa solusi (yang semoga) jitu dan sangat bias diterapkan untuk menghalau rasa takut naik pesawat? Berikut di antaranya



(1). BERDOA 
Yap. ini adalah jawaban khas insan beriman. Doa yang membuat kita yakin, bahwa apa yang kita lakukan senantiasa mendapatkan petunjuk, bimbingan dan perlindungan dari Yang Maha Kuasa. Apapun takdir kehidupan, harus senantiasa kita rujuk pada keputusan Dia Sang Maha Segala. So... berdoa, adalah "senjata". Doa adalah amunisi handal yang membuat kita merasa mantab jiwa, bahwa all is well.

(2). PILIH MASKAPAI YANG MINIM GUNCANGAN 
Contohnya.... Garuda Indonesia.
Maskapai ini identik dengan karakter kapten pesawat yang amat smooth ketika take off maupun landing. Jadi, buat yang masih termasuk jajaran newbie dalam pengalaman naik pesawat (atau yang nggak newbie tapi sering terjerat ngeri tak berkesudahan), ada baiknya pertimbangkan untuk pilih maskapai yang oke dokey ketika terbang mengangkasa.

(3). PILIH JAM PENERBANGAN PAGI ATAU SIANG 
Apalagi kalau cuaca sedang tidak beraturan seperti sekarang, rentang waktu pagi atau siang biasanya lebih tenang

(4). CARILAH TEMPAT DUDUK DI LORONG/AISLE. 
Sebaiknya, jangan di samping jendela. Karena bakal berpotensi menambah rasa takut bin deg-degan.

(5). CARI TEMPAT DUDUK DI DERETAN DEPAN
Kenapa? Karena lebih sunyi, stabil, dan nggak glodak-glodak. Beda kalau ada di tengah (dekat sayap) ataupun di ekor. O iya, bagian depan itu juga relatif sepi dari lalu lalang penumpang ataupun kru pesawat.

(6). JANGAN DILAWAN! LEMESIN AJA, SHAY!
Ini jawaban dari Haryadi Yansyah alias Omnduut

"Ibuku termasuk yang phobia. Aku bilangnya gini, pertama, kalau ada guncangan, jangan dilawan. Belio suka badannya dikerasin gitu, tegang dan dalam pikirannya kalo goncangan = pesawat akan jatoh. Aku bilang berdoa, zikir dan ikutin aja alur goncangan dipesawat. 

Kedua, aku kasih fakta bahwa pesawat terbang adalah moda transportasi teraman di dunia. Ya ini dilihat dari prosentase kecelakaan dan jumlah penerbangan yang ada. Aku juga kasih tahu bahwa turbulensi itu gak masalah, yang jadi titik kritis itu pas landing dan take off. Jadi, dengerin apa aja instruksi FA (flight attendant)-nya dengan baik. 

Alhasil, sekarang terbang sendirian pun ibu berani. Tapi rute pendek sih, macam Palembang ke Pangkal Pinang atau Palembang ke Jakarta. Terakhir dia umroh juga sendirian. Keknya ini karena rasa kangennya sama baitullah mengalahkan rasa takut hehehehe."


 (7). SENGAJA JANGAN TIDUR KETIKA MENJELANG NAIK PESAWAT 
Supaya apa? Agar badan terasa capek banget, dan siap bobok pulessss ketika di pesawat. 

(8). BAWA ANTIMO atau KONSULTASI DENGAN DOKTER
Apabila masih belum bias tidur atau tak kunjung merasa capek, ada baiknya siapkan Antimo sejak dari rumah. Minum sesaat sebelum take off, supaya bisa tidur selama di udara. 

Senior saya bahkan mengidap claustrophobic dan dia konsultasi ke dokter, lalu diresepkan obat penenang, sebangsa Valium

(9). ALIHKAN PERHATIAN KE HAL-HAL LAIN
Kalau saya biasanya lihat film yang tersedia di in-flight entertainment. Ini lumayan bisa mengurangi rasa deg-degan, apalagi kalau ada turbulensi hebat di udara

(10). ADA TIPS LAINKAH DARI TEMAN-TEMAN?





















Kamis, 25 Januari 2018

Sebongkah Cinta untuk Adik-adik Survivor Kanker

Kalau boleh memilih, semua anak tentu ingin tetap bergumul dengan dunianya. Bermain, berbagi tawa, melesakkan mimpi dan mengejar cita….
Kalau boleh memilih, tak satupun anak yang mengizinkan keceriaan harinya tercerabut oleh penyakit ganas nan mematikan….
Kalau boleh memilih, para bocah ini tentu tak mau berkawan akrab denganmonster bernama kanker

Sayang… terkadang, hidup tak menawarkan banyak pilihan.

Ketika mimpi buruk itu datang, dan menjelma jadi peristiwa nyata yang tak mungkin dielakkan. Ketika raga harus menyerah dengan kanker yang sedemikian ganas, maka hidup seolah hanya sebuah jalan buntu. Tak ada pilihan lain. Para bocah ini harus rela mengenyahkan keluh. Menata mental, untuk kebal. Untuk tetap menapaki jejak hidup yang terasa sedemikian terjal.

Para Penakluk Kemustahilan

Apabila rasa gundah gulana menyergap, buru-buru saya buka koleksi foto saya tentang Tiara Handicraft. Ada semilir rasa haru, yang datang tanpa diundang. Menyaksikan kiprah saudara-saudara saya, para penyandang difabel (different ability), yang tetap mengepakkan sayap semangat mereka… Sekaligus membuktikan pada dunia, bahwa mereka selalu mampu berkarya, dan menggerojok rasa bangga dalam dada…
301fc4a22392c5ea9d8464cc7479fa49_crafter
Para penyandang difabel, pekerja di Tiara Handicraft
39e39f4ee352bfbd18c6a522d712bb9b_mas-ucil
Bu Titik Winarti (kiri) dan Mas Acil,
Ngobrol asyik dengan Bu Titik
Ngobrol asyik dengan Bu Titik
Tiara Handicraft memang bukan UKM biasa. Di bawah komando Ibu Titik Winarti, Tiara Handicraft melesat menjadi UKM yang punya diferensiasi kuat. Ya, 90 persen pekerja adalah penyandang disabilitas.
Bicara soal istilah nih, Ibu Titik sendiri lebih suka melabeli mereka sebagai anak-anak difabel.
“Jangan disebut disable, karena secara tidak langsung kita men-judge sebagai orang yang tidak mampu mengerjakan apa-apa.Mereka ini punya kemampuan kok, tapi ya memang berbeda. Karena ada yang tangannya buntung, ada yang bermasalah di pendengaran, macam-macam. Tapi, saya yakin, mereka punya potensi, karena itulah saya menyebut para pengrajin di sini kaum difabel, different ability…” begitu ujar Bu Titik.
Tak hanya dipasarkan di dalam negeri. Produk Tiara Handycraft juga telah diekspor dan diminati banyak konsumen di mancanegara. Di antaranya, Brazil, Spanyol, Belanda, Amerika Serikat serta Singapura. Jaringan pemasaran yang mengglobal ini merupakan buah dari prestasi yang diraih Titik di tahun 2005.
Saat itu, Titik meraih penghargaan Microcredit Award dari pemerintah. Dia lalu berpidato di depan sidang Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), saat mengikuti pencanangan Tahun Internasional Kredit Mikro di markas PBB di New York, Amerika Serikat.
Saat ini, tren yang berkembang adalah, para konsumen akan membeli suatu produk berdasarkan personal story yang melekat di produk tersebut.
“Misalnya ada konsumen kami yang beli tas produk Tiara. Nah, di label harga, kami jelaskan bahwa produk ini digarap oleh penyandang tuna daksa. Maka, ia akan dengan senang hati bercerita ke rekan-rekannya bahwa ‘Hei, ini lho, saya pakai tas yang dibikin oleh penyandang difabel.’ Sudah bukan trennya orang-orang di Eropa berburu tas mewah. Mereka sudah bosan dengan itu semua. Justru yang diincar adalah produk-produk yang bernyawa, yang mengandung cerita dan menghidupkan ruh produk itu sendiri.”
Dan, memang saya langsung jatuh hati dengan produk-produk yang dikreasikan sepenuh cinta oleh mereka. Satu tas cantik berbandrol 100 ribu rupiah saja, langsung berpindah tangan. Tas ini bukan sekedar tas biasa. Tas ini adalah masterpiece, sebuah karya yang layak saya jadikan sebagai trigger, sebagai pemicu semangat, sekaligus menularkan jiwa tak kenal menyerah! Jiwa yang diusung oleh saudara-saudara kita para penyandang difabel.
Anda tahu, untuk memulai usaha “Tiara Handicraft” ini, Bu Titik hanya memanfaatkan pinjaman 500 ribu rupiah dari sebuah koperasi wanita di Surabaya. Dengan bekal cinta yang meluap,Bu Titik memberikan kesempatan berkarya pada kaum difabel.
“Mereka ini sebenarnya mampu kok! Mereka mampu melawan kemustahilan. Hanya saja, orang-orang kerap memandang sebelah mata dan tidak memberi kesempatan sama sekali bagi mereka. Walaupun tidak punya famili kaum difabel, saya terpanggil untuk ikut berkontribusi memberikan kesempatan bagi kaum difabel ini, agar unjuk kemampuan… Supaya masyarakat tahu, bahwa mereka mampu melakukan banyak hal, yang mungkin selama ini tak pernah kita duga,” lanjutnya.
“Selain itu, apa yang saya lakukan sekaligus menjadi ‘tantangan’ bagi mereka yang dianugerahi fisik lengkap. Apakah anak-anak muda yang punya organ tubuh lengkap juga memiliki semangat yang sama? Atau justru, anak-anak muda berfisik sempurna itu malah punya mental yang tidak sempurna? Yang gampang menyerah? Kalah sebelum berperang? Jangan mau kalah dengan teman-teman kita ini….!” tukas Titik.

Meski Tubuh Lumpuh, Semangat Mengajar Tetap Tangguh

Suara riuh rendah santri sebuah TPQ sayup terdengar. Dari kejauhan saya melangkah mendekati sumber suara, menyusuri gang-gang sempit perkampungan padat penduduk kota Malang. Sesekali teriakan dan tawa yang melengking meningkahi irama hadrah yang sedang mereka mainkan. Semakin mendekat terlihat beberapaasatidz tampak kewalahan mengatur anak-anak yang berkejaran ke sana kemari.



Ustadz Winarto di tengah santri-santrinya


Di tengah keriuhan itu saya mendapati seorang ustadz dengan tubuh kurus duduk di atas kursi roda. Wajahnya yang teduh tak sekalipun menampakkan ekspresi kesal kepada anak-anak yang bertingkah. Justru senyum beberapa kali mengulas di bibirnya demi melihat tingkah polah khas anak-anak itu.

"Saya memang suka dengan dunia anak-anak. Jika tidak ada mereka, saya malah merasa sedih. Kesepian," ujarnya sambil sesekali membenahi sarung yang menutupi kaki kurusnya.

Satu lempeng papan kayu ia gunakan untuk menahan jarak antar kedua kakinya agar tidak saling menumpuk. Jari-jari tangan yang tertekuk kaku dan kaki yang tak dapat digerakkan cukup membuat nafas saya tercekat. Iba dengan kehidupannya. Tak terbayangkan betapa kerasnya kecelakaan yang ia alami hingga merenggut separuh kebebasannya. Praktis, sehari-hari ia menghabiskan waktu di atas putaran kursi roda.

Untuk bisa melakukan aktivitas sehari-hari, seperti mandi, berpakaian, dan sebagainya, Ustadz Winarto harus dibantu oleh istri atau santrinya. Maha Besar Allah, yang telah menganugerahi hati yang begitu lembut dan ikhlas pada istri beliau. Tanpa pernah berkeluh kesah, sang istri senantiasa membopong Ustadz Winarto, tatkala hendak melakukan sesuatu hal.

"Saya bersyukur telah dipilihkan istri yang begitu istimewa. Istri saya mendukung penuh dakwah yang saya lakukan. Luar biasanya lagi adalah, beliau bersedia membina keluarga bersama saya, kendati kondisi tubuh saya lumpuh," ujar Ustadz Winarto.



Ustadz Winarto dan sang belahan jiwa


Kami berbincang tentang masa lalu. Seputar tragedi kecelakaan yang dialami beliau. Waktu itu, Ustadz Winarto hendak mengajar Al-Quran di Pasuruan. Dalam perjalanan antara Malang-Pasuruan, ia mengalami kecelakaan hebat. Luka parah yang menimpa tubuh kurusnya, membuat ustadz berkacamata ini harus menjalani rawat inap dan operasi di RS. Yang ajaib, salah satu dokter spesialis yang merawat beliau, berujar, Ini aneh. Biasanya, untuk kasus kecelakaan berat seperti ini, pasien kami langsung meninggal di tempat. Tapi, ustadz Winarto bisa bertahan hidup.


Subhanallah Maha Murah Allah, Maha Besar Allah, yang memberikan kesempatan hidup kedua pada beliau. Walaupun setelah musibah itu, Ustadz Winarto harus menelan pil pahit: organ tubuhnya lumpuh. Syarafnya di area perut ke bawah sudah tidak dapat berfungsi. Dalam setiap aktivitas, ia harus duduk di atas kursi roda.

Meski demikian, lagi-lagi Ustadz Winarto bisa memahamkan dirinya, bahwa musibah ini justru menguatkan ghirah (semangat) untuk mengemban amanah dakwah.

"Yang saya yakini, Allah tentu punya maksud tertentu, mengapa Ia mengizinkan saya untuk tetap hidup. InsyaAllah, saya diberikan tambahan umur, karena Allah menugaskan saya agar tetap berjihad di ladang dakwah, ucapnya tenang. Satu hal yang saya syukuri pula,Alhamdulillah, yang lumpuh adalah tubuh bagian bawah. Saya tidak mengalami gegar otak, sehingga masih bisa mengajarkan Al-Quran," begitu ujarnya. 


Allahu Akbar.! Tubuh saya merinding dan bergetar hebat, demi memaknai untaian syukur yang terurai dari kalimat beliau. Hal yang tampak sangat buruk sekalipun, bisa menjadi sebuah ladang amal yang indah, asalkan dibingkai dalam rasa syukur yang mendalam. Apapun skenario Allah, senantiasa menjadi sarana untuk terus
melantunkan syukur.

Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui. (Al-Baqarah: 216)

Bukan hanya dakwah lisan. Ustadz Winarto juga terinspirasi kalimat Ali bin Abi Tholib, Ikatlah ilmu dengan menulis. Puluhan artikel seputar keislaman ia lahirkan. Media massa besar kerap memuat opininya yang bernas dan tajam. Tak puas berbagi gagasan lewat media massa, beliau juga mengumpulkan artikel inspiratif, dan menerbitkan sebuah buku. Judulnya, sangat catchy,Kukuruyuk! Buku ini dikemas dengan gaya yang ringan, tapi berisikan kumpulan hikmah yang amat berisi. Tentang bagaimana menjalani hidup secara Islami. Tentang bagaimana kita mengisi hari, dengan beragam amal yang mendatangkan keberkahan dari Allah.


Putri Ustadz Winarto berlari-lari kecil di antara kami. Sesekali, ia memeluk ayahnya. Ayah yang berjiwa besar. Ayah yang mampu menerbitkan rasa bangga akan Islam. Bahwa siapapun yang menolong agama Allah, maka Allah akan mempermudah urusannya, baik di dunia maupun di akherat.

Hari itu, kota Malang terasa panas. Tapi, hati saya dingin dan nyaris membeku, demi mendengar kalimat penggugah jiwa dari Ustadz Winarto. Beliau mengajarkan kepada kami, bahwa sabar dan syukur adalah dua entitas signifikan, yang tak boleh lepas dari jiwa seorang muslim. Beliau menularkan sebuah nilai pada kami, bahwa sejatinya, hal baik dan hal buruk adalah semata-mata ujian dari Allah. Ujian keimanan untuk kita semua.

Bersyukur saya bisa belajar ilmu ikhlas pada keluarga kecil ini. Keluarga sederhana, yang senantiasa memancarkan semangat tak kunjung padam, untuk selalu menebarkan sikappositive thinking. Keluarga yang sekilas tampak biasa-biasa saja, namun penuh dengan suntikan inspirasi untuk membumikan dakwah di muka bumi. Kombinasi pasutri yang memegang teguh semangat untuk mencerdaskan anak bangsa.
Dan, di mata saya, keluarga Ustadz Winarto adalah sosok superhero yang sesungguhnya.(*)