Bahagia Merayakan Hari di Bumi Pacitan

Arrggghh, kepala saya rasanya mau meledak! SEHARUSNYA saat ini saya berada di Pacitan. Merayakan Hari spesial bertajuk Hari Raya Idul Fitri, bersama sanak famili yang berkumpul di kota kelahiran Pak SBY. Berkecipak-kecipuk di pantai-pantai nan eksotis... Membaui semerbak bau tanah yang terguyur air laut... bercengkrama dengan deburan ombak....SEHARUSNYA. SEMESTINYA. SEYOGYANYA.

Aaarghhh, tapi sayaaaang... beribu sayang....saya ternyata masih berada di sini. Terjebak di sebuah distrik bernama Rungkut. Terkungkung di kota Surabaya—yang selalu saya cintai dalam diam, tapi heiii, bukankah mencintai tak berarti kau harus berada bersamanya setiap saat? Bukankah ada masanya, kau harus meninggalkan untuk beberapa saat, demi tercipta JEDA, yang pada akhirnya menunjukkan bahwa memang kau punya cinta yang begitu nyata, untuk Surabaya? 

“Pak, aku pengin ke Pacitan. Semua saudara ibuku lagi kumpul di sana. Aku ke Pacitan ya Pak...” Aku merajuk ke suami. Sungguh, rindu pada Pacitan hadir bertalu-talu.

Suami menatap dengan pandangan hopeless. Terkadang, sulit mengenyahkan sisi childish istri semata wayangnya ini. ”Bu, ini saudara-saudaraku kan pada ngumpul di Surabaya. Mereka jauh-jauh datang dari Jakarta dan Bandung. Kita ngumpul Cuma setahun sekali, pas Idul Fitri. Mosok malah ditinggal ke Pacitan?”

“Ya sampeyan aja di Surabaya, aku tetep ke Pacitan.”
“Gak iso, Bu. Tulung nang Pacitan ditunda dulu aja. Nunggu sampai Lebaran selesai.”

***

Begitulah. Surabaya seolah menjadi jeruji yang menjebak saya dalam rutinitas aduhai amat-sangat-membosankan. Saya terpaksa mengebiri semua asa untuk bisa pulang kampung. Sehari-hari berkutat dengan rutinitas yang menjemukan di Surabaya. Hari Raya, juga tetap terkungkung di sini. Sementara, keluarga besar (dari pihak Ibu) sudah berkirim foto-foto keluarga di berbagai media sosial. Arrrghhh...!!

Hingga kemudian, hari itu tiba.

I don’t care apakah ada yang menuding bahwa saya ipar tak tahu diuntung, terseraaaah! I really don’t care. Yang jelas, ketika pekan Lebaran sudah berakhir.... kemudian saudara-saudara suami pulang ke rumah masing-masing, ada sesuatu yang menggelegak dalam dada. Meluap-luapkan kegembiraan, sebuah aroma kebebasan siap terhempas ke udara...YAYYY!! EUREKA!! Ini saatnya pulang kampung ke Pacitan!

***

Tidak pernah sebahagia ini. Saya memang kerap pergi ke Pacitan. Tapi, perjalanan kali ini luar biasa berbeda. Saya pulang ke Pacitan, setelah berhasil melampaui sebuah periode super-duper-membosankan di bumi Surabaya. Ini adalah pulang kampung yang sarat makna. Seolah saya telah terlepas dari belenggu dan siap bersorak gembira, “AKHIRNYAAAA, saya piknik juga!”

Ini berimbas pada kesehatan jiwa. Apalagi, saudara di Pacitan mengajak kami beranjangsana ke Pantai Klayar. Yap, that famous beach.












Lebih ajaib lagi, karena piknik yang kami lakoni bertiga --aku, Sidqi, dan ibuku-- terbilang lumayan impulsif. Langsung memutuskan untuk bawa ransel, isi dengan baju secukupnya, lalu cussss... kita naik bus menuju Pacitan! Bener-bener backpacker ala-ala :)

Dan, ternyata... yang namanya piknik impulsif itu... sungguh memberikan kenangan yang amat berharga. Sampai detik ini, saya masih ingat letupan-letupan "ngeri-ngeri sedap" manakala kita memutuskan untuk pergi ke Pacitan. Padahal, perjalanan ngebolang itu sudah kami lakukan pada Rabu, 22 July 2015. 

"Duh, kalo ntar jalanan macet parah karena arus balik, gimana ya?" 
Yep, kami memang baru mudik ketika orang lain sudah menjalani arus balik. Bener-bener anti-mainstream. Hahahahaaa. 

***
Selain ke pantai, bulek (tante) saya di Pacitan melontarkan ide yang amat brilian. 

"Mumpung lagi di sini, itu Sidqi mbok ya diajarin renang! Panggilkan guru les privat renang, trus latihan intensif di kolam renang di Pacitan." 

Jadilah. Liburan yang serba mendadak, impulsif, dan sama sekali nggak terencana ini, malah memberikan impact yang luar biasa. 

Sidqi --hanya dalam rentang empat hari les renang intensif-- Alhamdulillah, sudah menguasai renang dengan gaya dada dan bebas. 

Sementara saya? Alhamdulillah... Segala nyeri, sebal, judeg, stres, yang bercampur dan siap pecah di ubun-ubun.. semuanya lenyaaaap... sirna tak berbekas. 

Saya bersyukur, diberikan kesempatan untuk bisa traveling dalam rentang waktu sesingkat ini, namun amatlah impresif. Sungguh tak habis-habis rasa syukur saya. 

Memang, traveling itu ibarat OBAT. 
Traveling adalah salah satu "ramuan" yang sanggup mengenyahkan segala tekanan batin, akibat rutinitas yang membuat hidup kita laksana hamster. 
Kita seolah dipaksa berlari... dan kita merasa kita tengah berlari... tapi, sialnya, kita ternyata tidak kemana-mana. 

Traveling itu bisa membuat pola pikir kita tak lagi acakadut. Segala hal bisa kita pandang dari kacamata penuh kewarasan. Tak melulu membuat kita terjerembab dalam sikap saling nyinyir dan penuh kedengkian terhadap segala rezeki yang diberikan Allah kepada teman kita, either di dunia nyata maupun maya. 

Sekarang, saya sedang berencana ke Bogor. Ini karena Sidqi bolak/i nanya tentang dinosaurus. Lalu, bapaknya menyeletuk, "Loh, di Bogor ada museum zoologi! Kamu bisa belajar dino di sana!" 

Wah, waaah, berarti kalau liburan di Bogor sudah barang tentu, ini agenda utama kami! Berkunjung ke museum Zoologi. Selain itu, alangkah nikmatnya merasakan hembusan angin di Kebun Raya Bogor, serta melakoni "studi banding" ke Taman Safari Indonesia yang ada di sana. 

Yep, selama ini, saya dan Sidqi kan baru ngebolang ke Taman Safari yang di Pasuruan Jawa Timur. Semoga, semoga, semoga, akhir tahun ini Sang Maha Sutradara Kehidupan menitahkan dan menakdirkan kami bisa berada di Bogor. 

Bersua dengan Mak Arin, sudah pasti jadi agenda wajib yang tak boleh dilewatkan :) 

***

Add caption



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Dakwah ala Maher Zain

Bersyukur

Bersyukur Meski (Tampaknya) Sedang Tersungkur