Menikmati Malioboro Saat Low Season
Menikmati Malioboro Saat Low Season
Ingat Jogja, ingat Malioboro. Yap, jalanan yang legendaris
ini seolah menjadi “menu wajib” bagi para wisatawan yang bertandang ke kota
Jogja. Saat plesir berdua dengan anak, Senin (12 Januari) lalu, saya pun memutuskan
untuk menginap di hotel yang walking distance dengan Malioboro. Tujuannya,
tidak lain tidak bukan, supaya nggak keluar ongkos transport (emak irit
detected!) Plus, kalau mau jalan-jalan bisa sampai malam, tanpa terjerat
kekhawatiran berlebihan.
Pertengahan Januari ini terbilang “low season”, ya. Karena
wisatawan pada umumnya sudah “habis-habisan” belanja budget traveling jelang
pergantian tahun. Senin malam itu, Malioboro terbilang lengang. Saya bisa
berjalan di selasar tanpa insiden tertubruk manusia-manusia lain. Semua toko
juga cukup spacious, malah ada sejumlah toko batik (yang terkenal dan tampak
premium) bisa dibilang pengunjungnya kosong melompong. Bapak penarik becak
terus menerus menawari untuk “Monggo… ke pabrik bakpia 25, saya antar PP 10
ribu saja…” Tapi, entah berapa kepala yang memutuskan untuk menggeleng sopan
sambil menunjukkan gestur “Mboten, Pak” (tidak, Pak.) Sepertinya, anggaran
pengadaan oleh-oleh juga merosot drastis. Aneka toko oleh-oleh yang berjejer di
sepanjang Malioboro, nyaris seluruhnya sepi pengunjung. Kalopun ada, hanya 2-5
orang saja. Itupun mayoritas tidak melakukan transaksi dalam jumlah yang bikin
girang owner toko. Musisi jalanan mulai beraksi… demikian sepenggal lirik
“Yogyakarta” yang dilantunkan Katon KLA Project. Ya, ada dua sampai tiga
Musisi/band yang sempat saya nikmati performanya. Magis. Suara vokalisnya
membius, ditingkahi gerimis yang begitu ajeg menjadi irama tambahan para musisi
egaliter nan merakyat ini.
Semua terasa indah. Sesuai dengan ekspektasi yang saya
rajut. Berjalan-jalan demi target 5 ribu Langkah per hari. Dengan ambience yang
menyejukkan jiwa. Aroma petrichor yang menjadi sarana healing nan efektif.
Perjalanan ini menggiring saya pada rasa syukur. Manusia
yang tidak berjejalan. Kami bisa menyusuri Malioboro dengan tenang, tanpa rasa
kemrungsung atau overthinking. Situasi sangat terkendali. Saya bebas beli
apaaaa saja, tanpa perlu mengantre. Sungguh, ini privilege buat para wisatawan,
apalagi yang jarang piknik seperti diriku!
Para pelayan toko tampak stabil, senyum mereka menandakan
fisik dan psikis yang tidak terjerat rasa lelah berlebihan. “Silakan Ibu… Struk
ada di dalam tas belanja nggih…”
Kulirik struk dengan transaksi tidak seberapa itu. Saya
tenang. Saya senang. Tapiii, benarkah mas-mas dan mbak-mbak ini juga punya
perasaan serupa? Bagaimana kalau mereka tetap dikejar target, harus ada
penjualan sekian sekian… dan dengan kondisi Malioboro yang sepiii seperti ini,
target meleset, dan hanya tercapai sepersekian saja?
Sesaat saya dilanda mixed feeling, rasa campur aduk. Saya nggumun
(takjub dan heran). Beneran ini Maliboro? Se-low season ini kah? Di satu sisi,
rasa excited tidak terenyahkan. Saya merasa beruntung karena nggak perlu
senggol-senggolan dengan wisatawan lain. Akan tetapi, di sisi lain… kasihan
juga toko-toko dan para bakul yang kondisinya sepi pembeli. Ahhh, tapiii… pas
high season, dagangan mereka pasti laris manis tanjung kimpul, kan? InsyaAllah
bentar lagi ada long weekend, kok. Trus Ramadan, Lebaran…. Pasti Maliboro rame
lagiii, Pasti! (*)


asik banget kalo jogja lagi sepi, bisa jalan bebas sore ke malam dan mencoba tempat wisata viral :D
BalasHapus