Kutitipkan Segenggam Cinta di Pantai Pidakan

Mari ambil jeda sejenak dari hiruk-pikuk duniawi 
yang ada kalanya rentan membuat depresi.

Mari luangkan waktu, untuk menikmati bentang alam 
yang terhampar dengan begitu indah.

Nikmati lukisan Tuhan yang tergores dengan begitu sempurna, tak pernah ada cela. 

Sebuah Mahakarya yang sesungguhnya, yang membuat kita sanggup terbuai dalam keelokan dan pesona alam, dan membuat jiwa kian melayang dalam sebuah fantasi yang melegakan.

Pantai dan Pacitan. 

Dua kata ini begitu membius jiwa yang haus kedamaian. Pantai yang ada di Pacitan, sungguh, semua seolah memanggil-manggil untuk segera kami jamah. 

Walaupun untuk beranjangsana ke Pacitan, kami harus melakoni perjalanan dengan durasi kurang lebih 9 jam, dari Surabaya.

Ya, ya, ya. Pacitan memang jauh. Jauuuuh, pake banget.

Akses jalan ke sana juga enggak bisa dibilang nyaman. Jalur Ponorogo – Pacitan adalah jalur yang berkelok-kelok, sangat curam, tikungannya luar biasa tajam, mendaki dengan kemiringan yang masya Allah banget… Belum cukup? Sekedar informasi. Di samping kita, terbentang jurang yang menganga! Wow banget kan?



Itu dia. Karena jalur darat yang rentan bikin sutris, beberapa kali saya “alergi” saban mau ke Pacitan. Antara takut, ngeri, plus bakal mabuk perjalanan. 

Untunglah, kengerian ini sedikit demi sedikit bisa tereliminir. Kenapa? Ya. Karena semua perjalanan yang penuh perjuangan itu, terbayar lunas, manakala kita saksikan luar-biasa-molek-nya sebuah destinasi, bernama pantai…..

Beragam pantai tersebar di seantero Pacitan. Ada pantai Klayar, Watu Karung, Banyu Tibo, Buyutan, macam-macam! Alhamdulillah, kaki dan bodi saya yang ginuk-ginuk ini sudah melanglang ke sejumlah pantai. Sudah merasakan sejumput kesegaran suasana. Santai di pantai…….

Kali ini, saya ajak Anda untuk menikmati buaian kesegaran alam, yang tersaji di Pantai Pidakan. Pidakan, dalam bahasa Jawa, artinya pijakan. Terletak di wilayah Dusun Godek Kulon, Desa Jetak, Kecamatan Tulakan, Pacitan, pantai ini punya diferensiasi yang amat kuat. Bila di pantai-pantai lain kita jumpai pasir putih nan lembut, maka Pantai Pidakan penuh dengan kerikil!

Kerikil yang terhampar di Pantai Pidakan





Istimewanya lagi, semua kerikil itu begitu bersih. Mengundang untuk dipandang. Mengundang untuk diinjak. Itulah mungkin, mengapa pantai ini dinamai Pidakan, alias pijakan. Kerikilnya bisa kita injak, untuk sekaligus sebagai sarana refleksi kaki. 

Ombak di pantai ini sungguh dahsyat. Seolah ingin melumat entitas yang ada di sekujur pantai. Beberapa kali saya merasa ngeri.

Tapiii... lihatlah.... Sidqi anak saya.... Entah, ada kekuatan dari mana, ia seolah tergiring untuk “uji nyali”. Kaki mungilnya terus melangkah... terus menuju ke arah yang kian menjauhi bibir pantai...

Sidqi dan tantenya melaju sampai ke tengah


“Sidqiiiii... jangan terlalu ke tengah Naaak....! Bahayaaa...! Ini ombak pantai selatan Nak.....”
Tahu sendiri kan, bahwa ombak pantai selatan identik dengan ombak yang kerap menggulung siapapun atau apapun yang ada di dekatnya. 

Dengan ekspresi wajah yang takut, excited, plus adrenaline rush, Sidqi seolah berkirim kode, “Bismillah, Ibu. All is well.”

Tak putus saya memperingatkan Sidqi dan saudara-saudara kami. Kadang, sepupu saya kumat isengnya. Dia ingin bawa kerikil yang begitu banyak terhampar di sepanjang pantai. “Jangan! Ingat dong, kita di sini untuk nikmati panorama alam! Jangan ganggu keseimbangan ekosistem pantai!” saya kembali nyap-nyap.

Ya. Di pantai ini, marilah ikuti cara saya mencicipi indahnya alam.
Saya, emak-emak berbodi lebar, dari pinggir pantai menikmati mahakarya sempurna dari Yang Maha Sempurna. Betapa begitu Pemurahnya, Ia kirimkan bentangan pantai yang luar biasa ini. Yang seolah mampu mengusir penat. Mengenyahkan jenuh. Membuat kita berkontemplasi, bahwa dalam hidup, kita harus punya jiwa setegar batu karang. Ia tetap kokoh. Tangguh walau dihantam ombak. Gelombang kehidupan yang senantiasa menerjang, tak lantas membuat si batu karang layu, jatuh atau terseok. Ia tetap berada di sana. Mengusung idealisme, visi hidup yang harus menjelma jadi nyata.


Oh, pantai…..
Oh, pantai Pidakan…. how can I not love you?
Angin yang begitu lembut membuat kalbu berdesir.

Betapa kurang ajarnya saya, kalau tidak mau mensyukuri beragam nikmat yang Allah berikan. Tidak semua punya kesempatan untuk menjejakkan kaki di pantai yang rupawan ini. Tidak semua berpeluang untuk mencecap hikmah yang tersaji dari deburan ombak di pantai. Tidak semua bisa berbangga dengan panorama elok di bumi pertiwi yang selalu kita cintai, Indonesia…
Aaah…. jiwa saya begitu tenang… Kalbu saya merindu…

Pada sebuah pantai, kutitipkan sebuah salam. Bahwa, keindahan panorama yang tersaji, harusnya melecutkan semangat kita, untuk menjadi manusia yang jauh lebih baik dan bermanfaat.
Kami berkubang dalam tawa. Gembira yang amat sangat.

How to Get There? 

Karena kontur bukit plus jurang yang cukup bikin "ngeri-ngeri sedap" tentu dibutuhkan skill driver plus armada kendaraan yang sangat mumpuni. 

Yang paling "rawan" adalah, ketika harus menyusuri jalur Ponorogo-Pacitan. Syukur Alhamdulillah, saya menuju destinasi kesayangan ini dengan armada mobil yang sangat mumpuni. Yap... Kami melaju dengan Toyota Agya kesayangan. 


Wefie bareng di dalam Agya kesayangan menuju Pacitan
Kenapa harus banget naik Toyota Agya? Tentu, untuk menempuh jalur yang cukup bikin dag-dig-dug serrr, kita kudu mengendara mobil yang nyaman, handal plus lincah.

Apalah arti driver dengan skill ala Jason Statham, kalau mobilnya enggak asik, ya kan?

Toyota Agya ini memang imut-imut unyu nggemesin. Bodinya juga ramping. Tapiiii, ternyata interiornya luas banget! Bahkan, sanggup menampung emak-emak ginuk-ginuk seperti dirikuh ini.
Lebih asyik lagi, kapasitas bagasinya amat luas. Daaan, ini yang paling pentiiing, BBM-nya iriiiit! *kekepin dompet*



Saya sudah membuktikan, bahwa kolaborasi destinasi yang menyejukkan jiwa, dipadu armada nan handal, adalah sebuah jawaban Sang Pemilik Semesta, agar kita senantiasa merayakan hidup, dengan bongkahan semangat di dada.

Kutitipkan segenggam cinta di Pantai Pidakan, kulajukan meriahnya hidup bersama Toyota Agya kesayangan. (*)



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bersyukur

Ayo Tetap Sehat, Jelang Transisi Pandemi Menuju Endemi!

Berdaya dan Berkarya Bareng Komunitas IIDN