Brain Rot
Pembahasan podcast Rory Asyari dengan dr. Rizki Edmi Edison, P.hd cukup menarik dan relevan dengan kehidupan saat ini, dimana kebiasaan digital secara perlahan membuat kemampuan otak manusia menurun tanpa disadari.
Dalam podcast tersebut dijelaskan bahwa otak manusia sebenarnya dirancang untuk fokus, berpikir mendalam, dan memproses informasi secara bertahap. Namun era digital saat ini membuat banyak masyarakat terbiasa menggunakan handphone secara berlebihan. Banyak masyarakat scroll media sosial tanpa henti, bersikap multitasking, dan binge watching (maraton film).
Kebiasan tersebut membuat otak mengalami "overstimulasi" dimana otak dibombardir oleh berbagai notifikasi, video pendek, dan informasi yang datang tanpa henti. Setiap kali kita menerima stimulus baru, otak akan melepaskan dopamin yang membuat kita merasa senang dan ingin mengulanginya lagi. Ketika stimulus datang terlalu sering dan terlalu mudah, otak menjadi terbiasa mencari kepuasan instan.
Otak bekerja dengan prinsip plastisitas, dimana ia berubah mengikuti kebiasaan. Ketika kita sering menerima rangsangan cepat dan dangkal dari paparan konten digital, koneksi neural yang mendukung respon instan menjadi lebih aktif. Dan sebaliknya, koneksi yang mendukung fokus dalam waktu lama, pemikiran logis, dan refleksi mendalam menjadi kurang sering digunakan. Akibatnya, aktivitas yang membutuhkan fokus panjang seperti membaca buku, belajar, atau berpikir kritis mulai terasa berat dan melelahkan. Apabila kebiasaan ini dilakukan berkepanjangan, maka dapat menurunkan fokus, melemahkan memori, memicu kelelahan mental, dan menjadi penyebab penurunan kualitas fungsi otak.
Penurunan kualitas fungsi otak akibat konsumsi konten digital secara berulang dan berlebihan ini dikenal sebagai "brain rot". Istilah "brain rot" ini menjadi “Word of the Year 2024” versi Oxford University Press . Hal ini menandakan bahwa fenomena "brain rot" ini dianggap nyata dan semakin relevan di tengah masyarakat global.
Di Indonesia sendiri gejala ini semakin nyata karena tingginya penggunaan internet dan media sosial di berbagai kalangan. Banyak masyarakat menghabiskan waktu berjam-jam setiap hari untuk membuka berbagi media sosial. Paparan informasi yang terus menerus membuat otak jarang mendapatkan waktu untuk beristirahat dan memproses informasi secara mendalam. Akibatnya, banyak orang merasa sulit lepas dari handphone, mudah gelisah ketika tidak online, dan merasa tertinggal ketika tidak mengikuti arus informasi terbaru.
.
Dalam podcast tersebut, dr. Rizki Edmi Edison, P.hd memberikan tips untuk menjaga fungsi otak tetap terjaga, diantaranya ialah :
- Bergerak / olahraga yang cukup.
- Makan secukupnya dan jangan kelebihan kalori.
- Bersosialisasi dan mulai membangun kebiasan membaca untuk meningkatkan attention span.
- Memberi otak jeda dengan membatasi waktu membuka sosial media.
Pada akhirnya, kualitas otak kita di masa depan sangat ditentukan oleh kebiasaan yang kita lakukan.

Komentar
Posting Komentar