Tidak Ada Perjalanan yang Mulus

 

When things go wrong as they sometimes will

When the road you’re trudging seems all uphill

When the funds are low, and the debts are high

And you wanna smile, but you have to sigh

When care is pressing you down a bit

REST if you must, but DON’T you QUIT

 

Kalimat di atas mengandung hikmah yang dalem banget. Semua orang PASTI pernah merasa frustrasi, Lelah, bosan dalam menjalani hidup. Ketika masih kanak-kanak dulu, begitu kita merasa bermain kelereng berkembang jadi curang dan membosankan, maka dengan mudahnya kita akan memunguti gundu lalu pergi. Yaakk, itulah privilege bocah! Dan itu yang membedakan orang dewasa dengan kanak-kanak. Bahwa orang dewasa harus lebih mampu MENGENDALIKAN IMPULSNYA. Orang dewasa tidak punya kemewahan untuk meninggalkan gelanggang, manakala dia kayak pengin nyerah aja dengan perjalanan hidup.



Misal nih misal. Kita merasa atasan berlaku tidak adil. Emang boleeeehh, kita langsung memberesi meja kantor, trus ciao dan engga kerja lagi seenaknya dewe? Nggak mungkin, kan? Karena boleh jadi, anak kita lagi butuh banget biaya buat daftar ulang, atau beli seraham baru. Atau bisa jadi, kita lagi ngarepin bangeeett bonus akhir tahun, karena banyak plafon rumah yang ambrol gegara kucing kebelet kawin. Banyaaakk banget alasan yang menjadi sebuah konfirmasi bahwa: Heyyy, sebagai orang dewasa, ternyata kita TIDAK INDEPENDEN lagi!

Yap, frustasi, Lelah, bosan itu semua adalah perasaan yang amat valid, kok. Ini adalah hal yang normal dan bisa banget muncul mak bedunduk dalam setiap situasi kerja. Boleh jadi, kita merasa was-was karena dua bulan lagi udah kudu cicil KPR, nih. Atau, kita frustrasi lantaran plan A gagal, plan B amburadul, plan C juga alakazam. Duhh, hayati Lelah, bestie… apalagi nyaris saban hari kerja lembur tiada henti, gaji nggak kunjung dua digit *eehhhhh



Tetapi, bukankah setiap situasi terburuk pun akan selalu ada akhirnya? Pada titik akhir itulah, PELUANG bakal menjadi KENYATAAN.

Yap, perjalanan Panjang memang akan selalu melelahkan. Profesi kita jalani boleh diibaratkan sebagai lari marathon, kan? Maka, kita semua perlu mengatur Langkah dan tempo.

Kalau kita Tengah sampai pada TITIK JENUH itu, ambillah napas, istirahatlah, ambil cuti, pergi berlibur ke tempat yang bedaaaa banget dengan kondisi kita sehari-hari. Misalnya, saya tinggal di Surabaya, kota yang identik dengan suhu panas, bising, macet, ramai. Maka, saya bisa ambil cuti dan pergi ke Pacitan, untuk menghirup udara segar, jalan-jalan ke gunung, goa, Pantai, bercengkrama dengan warga lokal…. Ini sangat bisa merilekskan pikiran.



Nah, kalau kebetulan, Anda saat ini lagi mempertimbangkan untuk resign/ berhenti kerja, coba deh consider hal-hal berikut ini:

(1). Istirahatlah dan ambillah jarak dari pekerjaan. Mau pantengin Shinbi House atau jalan-jalan ke negara tetangga? Boleh banget! Niscaya Anda bisa temukan antidote terhadap kejenuhan itu.

(2). Ingatlah bahwa cari pekerjaan lain tidak selalu gampang. Ada kecenderungan bahwa orang yang sedang bekerja mempunyai peluang lebih baik, ketimbang jobless person yang sedang berburu pekerjaan. Walaupun udah baca Tips Melamar Kerja bukan jaminan bahwa kita akan segampang itu dapat job baru khan? 

(3). Pekerjaan di tempat lain selalu TAMPAK lebih menyenangkan. Heyyy, ingat pepatah, rumput di halaman tetangga selalu kelihatan lebih hijau. Iya apa iyaaa?

(4). Jangan menyangka kalau masalah yang tengah Anda hadapi di tempat kerja sekarang tidak akan Anda hadapi di tempat kerja lain. Intinya, setiap tempat kerja PASTI punya masalah masing-masing, beda jenis dan intensitasnya saja.



Mengharapkan perjalanan yang selalu mulus adalah WISHFUL THINKING. Percayalah, tidak ada situasi kerja yang 100 persen negatif, demikian juga tidak ada situasi kerja yang 100% positif. Maka yang bisa kita lakukan adalah: KORTINGLAH HARAPAN Anda, sedikit saja.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bersyukur

Berdaya dan Berkarya Bareng Komunitas IIDN

Membincang Kematian Bersama Ananda