Tidak Jadi Apa-apa
Saya beri jawaban yang sedikit berbeda ya.
Ada satu film yang pernah saya tonton tahun 2020 silam, ini judulnya:
Film ini bercerita tentang Sasha Tran (Ali Wong) dan Marcus Kim (Randall Park) yang bersahabat karib sejak mereka sama-sama masih bocil dan tinggal bersebelahan di San Francisco. Waktu berlalu, keduanya beranjak dewasa, dan saat usia 18 tahun datang, benih-benih cinta mulai tumbuh di antara mereka. Namun suatu ketika, karena Marcus salah bicara, keduanya putus hubungan dan berpisah jalan. Sasha pindah ke LA, sementara Marcus tetap tinggal di San Francisco.
Enam belas tahun berlalu, Sasha dan Marcus bertemu kembali, dalam kondisi yang sudah jauh berbeda. Sasha berhasil mewujudkan mimpi menjadi seorang chef yang sukses besar, sementara Marcus masih terjebak dalam kehidupan lamanya. Ia masih tinggal di rumah lamanya, bergaul dengan teman-teman yang sama, masih pula menjalani rutinitas nge-band bersama orang yang itu-itu saja. Kehidupan Marcus tidak berubah (apalagi meningkat) selama enam belas tahun, karena ia tak berani keluar dari lingkungan yang telah ia kenal baik di San Fransisco.
Karena rasa takutnya ini, pada akhirnya ia, yah… tidak jadi apa-apa. Tidak punya karir, tidak punya ambisi, hidupnya hanya bergulir saja dari hari ke hari tanpa arah yang jelas.
Saat nasib mempertemukannya kembali dengan Sasha, Marcus mulai jatuh cinta kembali pada teman masa kecilnya tersebut. Nah masalahnya nih… perbedaan kondisi keduanya yang jomplang membuat Marcus jadi uring-uringan. Sasha yang sukses dan berduit, kini tak lagi selevel dengan Marcus yang masih terjebak dalam kehidupan remaja. Apa pun yang Sasha lakukan, di mata Marcus ada saja salahnya. Ia sebal pada restoran yang Sasha kunjungi, pada cowok yang Sasha pacarin (walau ini ada unsur jealousy-nya juga, maklum namanya juga genre rom-com), pada gaya hidup Sasha yang glamor yang menurutnya nggak penting dan buang-buang duit.
Padahal bagi Sasha, kehidupan dia ya biasa-biasa saja. Tapi bagi Marcus, apa yang normal bagi Sasha merupakan suatu trigger.
Sikap Marcus ini, adalah ciri klasik seseorang yang memiliki perasaan inferior terhadap orang lain, yang (secara sadar atau tak sadar) ia anggap lebih tinggi kedudukan atau pencapaiannya. Ia sebenarnya merasa insecure dan tidak puas dengan hidupnya, kemudian memproyeksikan ketidakpuasan tersebut terhadap orang lain dalam bentuk sikap yang sinis dan uring-uringan. Bagaimana tidak insecure, wong ia bukan apa-apa, sementara sahabat masa kecil yang dulu sebelas-dua belas dengannya sudah jadi orang? Padahal dulunya mereka nyimeng bareng, bego-begoan bareng, lalu tiba-tiba saja sekarang sahabatnya sudah jauh berbeda, seperti bumi dan langit bedanya.
Saya jujur saja nih… kalau di masa depan kelak kamu 'tidak jadi apa-apa', ada kemungkinan kamu akan menjadi seperti Marcus.
Perasaan inferior itu menyesakkan. Saat kamu duduk di antara orang-orang yang sudah mencapai ini itu, sementara bagimu tahun demi tahun berlalu tanpa ada pergerakan atau perkembangan berarti, kamu akan merasa seperti manusia paling tak berharga sedunia. Kamu akan mulai bertanya-tanya, kenapa hidupku begini-begini saja? Untuk apa sebenarnya aku dilahirkan? Hidupku ini apa gunanya? Kenapa dia bisa, sementara aku tidak bisa? Dan banyak pertanyaan-pertanyaan lainnya yang membuatmu semakin merasa kerdil.
Pasti pernah lihat kan, kelakuan seseorang (atau banyak orang), entah di dunia maya maupun nyata, yang kalau misalnya ada orang lain mengatakan atau melakukan hal yang sebenarnya sama sekali netral, tiba-tiba saja tersinggung dan misuh-misuh. Misalnya ada yang berkata, "Eh minggu depan aku mau liburan ke xxxx", kemudian response orang ini langsung "SHOMBHONG BANGET LU, HARTA TUH GA DIBAWA MATI". Respon ngegas yang tak nyambung ini, besar kemungkinan akarnya dari perasaan inferior. Sama seperti Marcus yang bisa tiba-tiba kesal saat melihat Sasha menjalani hidupnya yang sebenarnya ya… normal-normal saja.
Orang yang tidak punya perasaan inferior, content akan hidup dan pencapaiannya sendiri, normalnya tidak akan bereaksi sensitif saat melihat hidup orang lain yang lebih 'tinggi' darinya.
Orang-orang lain bisa saja membuat kata-kata mutiara indah semacam: hidup ini bukan kompetisi, jalani hidupmu sesuai dengan kemampuanmu, dll dst. Yangmana semuanya tidak salah. But here's the tiny, annoying, unwanted fact: sebagai manusia, perasaan iri dan inferior itu tak bisa dihindari, apabila kamu menyadari bahwa hidupmu tak berkembang dan hanya jalan di tempat. Kamu pasti akan merasakannya, setidaknya satu kali seumur hidup kalau kamu beruntung, dan tak terhitung berapa kali sepanjang hidup kalau kamu tidak beruntung.
Dengan rawannya perasaan inferior ini muncul, bagaimana cara menghadapinya? Caranya, yah… jangan menjadi bukan apa-apa.
Sebenarnya, saya seringkali bingung setiap kali mendengar seseorang berkata, aku ini bukan apa-apa. Kok, kesannya mustahil sekali. Bukankah setiap manusia adalah seorang yang istimewa, dalam definisinya sendiri? Bukankah setiap manusia adalah seorang kekasih, atau seorang ibu yang melindungi anak-anaknya, atau seorang ayah yang jatuh-bangun mencari nafkah, atau seorang yang berhasil menang melawan penyakit, atau seorang yang bersedekah membantu orang lain, atau lain sebagainya? Jati diri dan pencapaian tidak melulu harus terdengar megah dan gegap gempita—yang sederhana namun dilakukan dengan sepenuh hati sudah cukup untuk membuatmu menjadi seseorang yang bermakna.
Saya selalu bilang pada junior-junior saya, baik dalam lingkungan keluarga, pertemanan, maupun pekerjaan: hidup itu harus punya drive. Harus punya tujuan yang ingin dicapai, sekecil atau sesederhana apa pun itu. Tujuan hidup itu tidak harus 'wah' semacam harus bisa masuk daftar Forbes 30 under 30 atau punya aset Rp 10 Miliar sebelum usia 30 tahun. Yang sederhana, kecil-kecilan saja, asal fulfilling, sudah cukup.
Menjalani hidup seperti NPC, yang hanya mondar-mandir di dunia ini tanpa arti dan fungsi, hanya akan membawamu ke posisi yang sama dengan Marcus Kim. Punya raga, punya nama, namun tak punya makna. Marcus tidak punya jati diri, tidak punya pencapaian, tidak punya rasa bangga terhadap hidupnya. Ia inferior, marah pada dirinya sendiri, dan kemarahan tersebut ia lampiaskan pada orang lain. Kebayang nggak tuh, punya pasangan yang tiap hari uring-uringan hanya karena merasa hidupnya hampa. Ini yang bahaya, dan menyebalkan bagi orang lain, saat seorang manusia merasa dirinya 'tidak menjadi apa-apa'.
Tentu saja pada akhirnya hidup manusia itu pendek, kita semua hanya numpang bernafas sesaat saja di muka bumi ini sebelum akhirnya mati dan menjadi kompos. Namun ada periode antara lahir dan mati yang dapat kita gunakan untuk melakukan sesuatu, agar kita bisa tersenyum sambil berkata, "This is me, and I'm not nothing" sebelum membusuk di dalam tanah, alih-alih hanya berpasrah saja pada ketiadaan.
Demikian, semoga berbahagia.
Komentar
Posting Komentar