Please, Jangan FOMO ya Nak!

Menjadi pemuda pemudi jaman now super challenging banget ya. Ibuk paham banget soal ini, Nak. Yang jelas, Ibu berusaha menanamkan value, supaya kamu enggak gampang ikut-ikutan. Apalagi jadi FOMO (Fear of Missing Out). Untuk coba memahami konteksnya, yuk baca tweet dari thread ini yak. @ryanffebrianto

 Late capitalism ini melelahkan, ya. Dikit-dikit kepengen nonton konser (sekarang hampir tiap bulan ada konser), pengennya makan enak terus, ada aja yg perlu dibeli. Kayaknya kalau ga bs ikutin standar lifestyle kebanyakan, bakal ngerasa left-out dan kesepian 🥶

Mikirnya ya Allah, kok ngerasa selalu gak pernah cukup, kok udah ngapa2in beli abcd ketemu si ini itu, hidup rasanya hampa-hampa juga 😅

We’ve been LED into a culture designed to make us tired, hungry for MORE, willing to pay a lot for entertainment, and dissatisfied with our lives so that we continue wanting things we don’t have. We buy so much because it always seems like something is still... missing



Bisa banget lagi narasi pembangunan itu dorong daya beli masyarakat, dan belum tentu juga masyarakatnya punya kesadaran kritis ttg ini.. We spend money to cheer ourselves up, to reward ourselves, to celebrate, to fix problems, to elevate our status, to alleviate boredom

Kompleks sih, dan isunya struktural. Mulai dari mana ya.. yg pasti selalu salut sama orang yg bersikap kritis, berhemat, dan selalu kembali ke rasionalitas dlm memutuskan sesuatu. Hemat dan kritis itu kemampuan paling penting & bijak kayanya.


Setuju banget dengan apa yang disampaikan oleh Ryan.

Dan makin mind-blowing, manakala disambung oleh thread dari @andrywaseso

intinya emang kapitalisme itu punya invisible hand yang gak cuma atur pasar, tapi juga atur mental health kita semua.

Masalahnya banyak orang yang merasa gini. seolah kita semudah itu mengontrol diri kita. Negeri paling kapitalistik macam US aja udah resah dengan efek kapitalisme ke mental health. Variabel struktural berkelindan dengan variabel sosial-politik, individu makin mungil kuasanya.

Imajinasi bahwa power, hence self control, itu sudah “given” dan “inherent” serta natural ada di setiap individu dari lahir adalah ilusi. Ada bagian otak yang harus dicopot supaya kita kebal sama pengaruh struktural dan sosial-politik. Semacam gak peduli semua itu.

Selama otak kita masih ada dua hemisphere kumplit, dan triune, beserta segala perangkat2 hasil evolusi sebelumnya yang belom hilang jejaknya…. Kita adalah resultante antara daya motivasi individu, strata sosial politik, dan komposisi sumber daya yang tersedia depan mata.

Komunitas psikologi global sudah mulai marak yang mengarah ke bagaimana gak terus2an barking on the wrong tree.


Mulai sering kasih warning bahaya tenggelam dalam media sosial misalnya. Mulai sadar betapa konfigurasi power yang timpang berperan terlalu besar untuk diabaikan.

Puluhan tahun psikologi ikutan tenggelam dalam freedom of choice dan mengabaikan faktor eksternal. Individu yang nyata terinjak sistem dibilang gak punya locus of control internal, yang artinya: buruk secara psikologis

Tapi syukurlah sekarang udah banyak ahli psikologi yang sadar bahwa hidup gak segitunya terserah masing2 individu. Ya dulu juga ada sih, tp entah kenapa tenggelam dalam diskursus publik. Positive Psychology which brought individualism at the forefront won at many battles.

Yang bertahan di faktor individual control semata sih juga masih ada. Tp skrg mulai imbang lah berdasarkan pantauan di situs2 psikologi dan literatur yang ada. Serta diskusi2 tentunya.

Titik temunya mungkin di ide lama tapi kurang menggema bernama functional freedom. Konstruk menarik yang menyebutkan bahwa konsepsi freedom (dalam decision making) paling realistis adalah bahwa freedom selalu berupa kondisi interaktif antara people vs. situation.

***

So, yeah, penting banget supaya kita punya kontrol diri. JANGAN telan mentah-mentah apapun dogma/ agitasi yang bertebaran di luar sana.

Banyak yang bilang, "Sekarang saatnya belanja! Shopping, shopping, shopping!"

Sekkkk, wait wait, tunggu dulu.

Yang harus kita paham, ini mau belanja untuk KEBUTUHAN? atau KEINGINAN?

Harus bener-bener bisa membedakan yah.

Ingat, di akherat nanti, kita akan dihisab. Ditanya, hartamu....kamu dapat DARI Mana dan dibelanjakan UNTUK APA?

So... BE WISE!









Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bersyukur

Berdaya dan Berkarya Bareng Komunitas IIDN

Membincang Kematian Bersama Ananda