Uwi alias Ustadz Wijayanto Berbagi Tips Soal Mendidik Anak, nih!

 Perawakannya sedang. Tampilannya bersahaja. Dialek khas Jogja selalu terdengar dalam tiap kalimat yang ia lontarkan.  Itulah sosok Ustadz Dr Wijayanto. Pengasuh acara “Majelis Sakinah” ini senantiasa menjadikan agama sebagai pilar dalam hidup keluarga.

Pemahaman mengenai agama selalu ditanamkan kepada anak-anaknya sejak dini. Selain itu, Wijayanto juga menyediakan lingkungan yang Islami, dengan menjadi pengasuh pondok pesantren Yayasan BIAS (Bina Insan Anak Sholeh). Apa saja tipsnya soal cara mendidik anak?

Berikut perbincangan saya dengan Ustadz Dr Wijayanto.

Sebagai ustadz, dosen sekaligus trainer, tentu jadwal Anda sangatlah padat. Ternyata, istri Anda juga berprofesi sebagai dosen dan kerap melakukan perjalanan dinas hingga ke luar negeri. Bagaimana Anda berdua memberikan perhatian pada anak-anak di rumah?

Kata kunci yang harus dianut oleh para orangtua adalah : “Wants to be needed”. Setiap orangtua harus ada keinginan untuk dibutuhkan oleh anak-anaknya. Saya tidak terima kalau sampai tidak dirindukan oleh anak-anak saya. Kalau saya pulang dari bepergian, entah di dalam kota atau luar kota, maka mereka harus lari menyambut kedatangan saya. Harus berceloteh, minta gendong, dan sebagainya. Itu menunjukkan kalau mereka merindukan saya.

 

img_0707

Jadi, meskipun kerap ditinggal demi dakwah ataupun pekerjaan, ikatan batin antara Anda dan anak-anak tetap selalu terjaga?  

Betul. Pada saat saya ada di rumah, maka saya selalu punya momen untuk melakukan ‘kafarah’ alias menebus ‘dosa’ karena meninggalkan anak dalam jangka waktu yang lumayan lama. Saya akan menggantikan seluruh urusan pembantu. Saya akan mandikan dan menyuapi anak. Saya dongengi mereka. Saya juga akan tidur sekamar dan bercanda dengan anak-anak saya. Selain itu, kami juga sering renang bareng di kolam renang yang ada di rumah. Inilah kenikmatan yang harus kita jaga dalam keluarga. Selama saya dan istri ada di luar negeri, anak-anak juga selalu menelepon setiap hari. InsyaAllah komunikasi yang selalu menguatkan ikatan batin di antara kami. Alhamdulillah sekarang banyak teknologi komunikasi yang bisa kita manfaatkan untuk terus menjalin silaturrahim.

Teknologi memang seperti pisau bermata dua. Terkadang, kita butuh dan amat bersyukur dengan kehadirannya. Tapi, tidak jarang, teknologi juga yang “merusak” mental anak kita. Bagaimana Anda menyikapi hal ini?

Anak saya yang paling besar (kelas 9 SMP) juga sering keasyikan utak-atik ipad-nya. Memang, orangtua masa kini harus bersaing dengan teknologi. Terutama anak yang sudah remaja, biasanya lebih asyik dengan ipad, daripada ngobrol langsung dengan orang yang ada di sebelahnya. Saya menyarankan orang tua harus lebih ketat dan disiplin dalam menerapkan beragam aturan seputar penggunaan alat komunikasi. Kalau sedang bertamu atau diajak bicara oleh orang lain, saya larang anak saya untuk asyik ber-ipad, karena tidak sopan.

Sudah jadi sunnatullah, anak muda berada dalam fase pencarian orientasi hidup. Dibutuhkan ajakan mengenai agama yang bisa betul-betul mengena. Karena itu, saya banyak belajar psikologi, agar dakwah yang saya sampaikan bisa mengena di hati anak muda yang galau. Agama prinsipnya di hati, jadi hatinya harus kena dulu.

Menurut Ustadz, apa prinsip yang harus terpolakan dalam rangka mendidik anak?

Ada lima prinsip yang harus kita pegang teguh:

  1. Pastikan dalam lingkungan yang benar dan baik. Lingkungan mencetak seseorang.
  2. Orangtua harus mau jadi teman dekat. Anak jadi jahat atau nakal, biasanya karena tidak percaya dan tak mau berbagi dengan orangtua. Anak merasa tidak nyaman dengan orangtuanya sendiri.
  3. Walijah atau social control. Perlu ada figur. Orangtua harus jadi pribadi yang mempesona di mata anaknya. Anak tidak berani melakukan sesuatu hal, misalnya, karena ingat bahwa hal tersebut dilarang oleh orangtuanya. Sekarang, banyak anak yang mau melakukan sebuah perbuatan buruk, malah menunggu ada orangtuanya. Supaya bisa pamer kenakalan.
  4. Ma’rifah (ilmu) Orang itu susah dididik kalau tidak diberi ilmu pengetahuan. Sedari dini, harus selalu ditanamkan pendidikan aqidah secara kuat. Karena tanpa bekal agama yang kuat, maka anak kita akan terombang-ambing menghadapi kerasnya zaman.
  5. Doa. Anak harus selalu didoakan. Ini yang kerap dilupakan oleh orangtua. Padahal kita harus terus menerus mendoakan anak.

Kalau prinsip pendidikan anak itu dilakukan sejak dini, barangkali hasilnya akan membanggakan. Tapi, bagaimana kalau anak kita sudah terlanjur remaja dan orangtua terlambat menyadari bahwa pendidikan agama yang diberikan kepada anaknya masih sangat minimalis ?

Itulah yang harus kita garisbawahi: Pendidikan jangan sampai terlambat. Alangkah buruknya kalau anak tidak bisa diinstruksi oleh orangtua. Kalau anak melakukan sebuah tindakan atau perilaku yang menyalahi aturan agama, berarti yang salah adalah orangtuanya. Karena bagaimanapun orangtua harus bertanggungjawab atas anaknya. Kalaupun anak kita tumbuh menjadi sosok yang pembangkang, pesan saya kepada para orangtua, banyak-banyaklah istighfar. Teruslah minta ampun kepada Allah. Memang untuk menghadapi masalah anak yang sudah terlanjur ‘nakal’ kita perlu melakukan proses pendidikan yang lebih intensif lagi.

Hal yang lebih buruk lagi adalah, ketika orangtua sudah kehilangan wibawa di hadapan anaknya….

Nah, ini yang sering kita temui. Banyak sekali anak yang makin berani terhadap orangtua dan menyuruh orangtuanya untuk meladeni mereka, hampir setiap hari! Itu artinya si Ibu statusnya tetap menjadi Ibu, tapi dia kehilangan ‘peran sebagai Ibu’. Naudzubillahi min dzalik. Rasul pernah bersabda, “Salah satu tanda kiamat adalah ketika seorang ibu melahirkan tuannya.” Jangan sampai ini menimpa kita. Sedari kecil, kondisikan keluarga Anda untuk selalu berada di lingkungan yang tidak memunculkan potensi berbuat jelek. Tutup akses atau peluang anggota keluarga kita untuk bisa berbuat jelek.

Sejak TK, anak saya tidak bisa melihat tayangan yang jelek-jelek. Bahkan, ketika bertamu ke rumah orang lain, lalu tuan rumah menyetel acara dangdutan, maka secara otomatis, anak saya akan protes, ”Ayah, itu kok acara TV-nya nggak sholeh.”  Ia sudah terbiasa dengan lingkungan agamis, harus mengaji, sholat jamaah di masjid, dan nilai-nilai Islami lainnya. Sehingga kalau melihat tayangan yang tidak selaras dengan Islam, dia akan menolak.

Supaya nasehat orangtua seputar agama bisa diterima oleh anak, prinsip apa yang harus selalu kita pegang?

Prinsip-prinsipnya ada empat. Pertama, Yassiru wala tu’ hassiru, artinya mudahkan jangan dipersulit. Tapi, jangan memudah-mudahkan agama, karena kalau dimudah-mudahkan juga keliru.

Kedua, Wa basyiru wala tunasiru, artinya senangkan jangan dibuat lari. Harus membuat orang enjoy beragama, jangan ditakut-takuti.

Ketiga, Biqodri ‘uqulihim, artinya dengan kadar akalnya, dengan taraf pengetahuannya. Berikan nasehat sesuai dengan usia, kondisi psikologis anak-anak kita.

Keempat, Bilisani qaulihim, dengan bahasa kaumnya. Supaya bisa jadi teman dekat anak, maka gunakan bahasa-bahasa kaum muda. (*)

Tempat, tanggal lahir: Solo, 27 Desember 1968

Alamat rumah: Pesantren Bina Anak Sholeh, Jalan Wirosaban Barat Nomor 5, Umbulharjo, Yogyakarta

Pekerjaan tetap: Dosen Magister Manajemen Universitas Gadjah Mada

PROFIL —Biodata Ustadz Wijayanto

Istri: Ulaya Ahdiani, 25 Februari 1973

Anak:

I Dzikrina Iffa Yohanida, 6 Oktober 1997

II Muhammad Nufail Naisaburi, 8 Desember 2001

III Muhammad Naja El-Ghifari, 11 Juli 2006

Komentar

  1. Luar biasa sekali ini pola asuh ustadz Wijayanto
    Sebagai pendidik memang patut jadi teladan kita semua
    Berdasarkan keterangan Uwi itu pula maka walaupun saya hanya punya anak satu, tapi tetap memberangkatkan dia ke pondok
    Walaupun jaraknya ribuan km dari rumah.
    Kenapa? Karena kami tidak punya ilmu. Untuk mengugurkan kewajiban itu kami memiliki pondok sebagai penggantinya
    Semoga dengan lingkungan yang baik karakter dan akhlak naik mulai tertanam di hatinya. Aamiin...

    Terimakasih Mbak Nurul udah berbagi ilmu. Saya ikut menyerap ilmu dari Uwi ini

    BalasHapus
  2. Mendidik anak itu emang nggak bisa sembarangan mbak Rul. Saya sendiri memiliki anak semata wayang masih sering khilaf dalam banyak hal. Dan lima point yang dikatakan sama pak Ustad juga bener semua.

    Apalagi di era sekarang yang makin ke sini pola-pola anak dan pergaulannya itu nggak bisa dikontrol. Sebagai orang tua pengontrolan emang harus di dalam rumah, dan nggak bisaa lagi pakai cara-cara VOC. Malah yang ada anak jadi takut dan keinginan orang tua untuk jadi kawan dekat anak pun ikut luntur.. :(

    BalasHapus
  3. MAntap sekali wejangan dari Ustad Wijayanto. Di mana mendidik anak emang gak boleh sembarangan tapi harus pakai ilmu dan memperkuat ajaran agama. Setuju, harus jadi sosok yang dirindukan anak (walau Saladin udah remaja tapi masih suka gelendotan bundanya).

    BTW kaget lihat template blog eeh ternyata ini blog lain bukan yang blog bukan bocah biasa.

    BalasHapus
  4. NAhhh pasti bakalan banyak yang setuju nih soal tantangan gawai zaman sekarang. Anak remaja tuh gampang banget hanyut di gadget kalau kita nggak tegas bikin batasan waktu. Buat aku, poin soal orang tua harus mau jadi teman dekat tuh kunci utamanya. Kalau anak udah nyaman cerita dari hati ke hati, otomatis kita lebih gampang ngebimbing mereka tanpa harus pakai cara marah marah.
    Mari kita arahkan anak ke posisi yang tepat

    BalasHapus
  5. Kalau ingat Ustaz Wijayanto ini, selalu penuh humor dan celoteh dalam penyampaian dakwahnya. Dan, itu membuat suasana jadi lebih segar dengan jamaah. Ternyata, dibalik suka melucu begitu, tersimpan ilmu penting tentang pendidikan anak. Salut, deh!

    BalasHapus
  6. Engeh nya dengan Ustad Wijayanto pas yang acara Dedy Corbuzier sama yang acara sahur itu. Pembawannya yang asik, siapa sangka urusan mendidik anak beliau concern dan serius ya. Mantap ini bisa menyerap ilmunya dengan apik, Kak Nurul

    BalasHapus
  7. Wawancaranya padat banget isinya. Bagian orangtua harus mau jadi teman dekat supaya anak nyaman cerita itu penting, soalnya kalau anak sudah nggak percaya sama orangtua, jadi susah dibimbing. Prinsip "mudahkan jangan dipersulit, senangkan jangan dibuat lari" juga pas buat mengenalkan agama ke anak. Bermanfaat banget!

    BalasHapus
  8. Tips dari Ustadz Wijayanto ini selalu menarik karena bahasanya sederhana tapi sering kena di kehidupan sehari-hari.

    Yang paling saya suka dari tulisan seperti ini, nasihatnya nggak terasa menggurui, malah bikin kita bercermin sendiri. Bahkan nggak antipati terhadap teknologi loh. Keren nih. Agama dan duniawinya seimbang.

    Kadang emang bukan hidup yang terlalu berat, tapi cara kita menyikapi cara mendidik anak yang perlu dibenahi. 😄

    BalasHapus
  9. Wah, aku salfok sama blognya! Baru tahu blog mbak Nurul yang ini. Aku juga suka dengerin ceramahnya Uwi mbak, adek banget biasanya. Apalagi soal parenting

    BalasHapus
  10. Tips nya masuk akal dan bermanfaat sekali. Apalagi beliau orang berpendidikan baik agama maupun formil sehingga jadi balance karena ilmunya banyak dari kedua sisi. Semoga sehat dan berkarya terus

    BalasHapus
  11. Saya suka tausiyahnya Ustadz Wijayanto, penyampaiannya enak dan mengena. Membaca artukel ini menambah wawasan ilmu parenting bagaimana cara mengatasi dan menghadapi anak dengan karakter yg berbeda-beda.

    BalasHapus
  12. Masyaallah sekali ilmu yang dibagikan ustad Wijayanto dalam wawancara ini. Memang dalam mendidik anak itu tidak mudah. Kita harus mengikuti zaman sekaligus tetap menjaga anak dari keburukannya. Menanamkan pendidikan agama dan memberikan lingkungan yang baik sejak dini memang sangat penting.

    BalasHapus
  13. Masya Allah, tipsnya daging semua, dan andai semua orang tua bisa menerapkan hasilnya pasti luar biasa. Wants to be needed, singkat, padat tapi ngena banget. Dan saya sepakat kita memang harus memiliki keinginan untuk dibutuhkan oleh anak-anak, sehingga terpisah jarak sejauh apapun rasanya tetap dekat. Bukan sebaliknya fisik berdekatan tapi rasanya berjauhan.

    BalasHapus
  14. Agama harus dibuat enjoy tapi bukan berarti dimudah2kan yaa. Noted.
    Prinsip2 mendidik anak ini penting banget diketahui oleh ortu yaa. Soalnya zaman makin berkembang. Apa yang dilakukan ortu kita dulu nggak semuanya bisa diterapkan untuk mendidik anak di zaman sekarang.
    Kekuatan doa ortu juga begitu makbul makanya kudu ati2 banget kalau udah berdoa atau sekadar ngomong ke anak.
    Menjadi teman dekat anak penting tapi juga jangan sampai hilang wibawa di hadapan anak yaa, supaya tidak diremehkan juga.

    BalasHapus
  15. Adem mbak membaca artikelnya, jadi reminder buatku yang masih belajar menjadi orang tua. Bener banget teknologi itu pisau bermata dua , di satu ssi menguntungkan di sisi lain merugikan, pinter-pinternya kita aja untuk memanfaatkannya. Apalagi aku ini adalam posisi 1 remaja 1 pra remaja, duh deg-deg ser rasanya mbak
    Harus sering-sering ngobrol dengan kiddos, kadang me time juga bergiliran, ngerumpi aja gitu sama mereka

    BalasHapus
  16. Jadi semakin pingin berbenah dan terus belajar untuk jadi orangtua yang sesuai Islam. Tentunya gak semudah berucap tapi terus menerus remedial dan dilangitkan doa doa nya

    BalasHapus
  17. Perihal anak yang masih diladeni orang tua ini kadang suka bikin kesal sih. Soalnya kadang anak-anak ini malas banget bergerak sampai mau minum aja minta diambilin sampai emak ngomel-ngomel. MAkasih sharingnya mbak ini bisa jadi bahan evaluasi nih buatku dalam mendidik anak

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Berdaya dan Berkarya Bareng Komunitas IIDN

Merasakan Sensasi “Miniatur Mekkah” dan Harmonisnya Multi-Etnis di Masjid Ampel Surabaya

Kampung Lali Gadget, Inspirasi untuk Keluarga Indonesia