Tentang Wanita Hebat Pemberdaya Para Difabel



Iiiihhh… lama banget yak, daku tak obrak-abrik blog enih. Baiklaahh… sekarang daku mau semangat ngebloooggggg *tereak pake toa*

Kalo ini, aku mau cerita soal Bu Titik Winarti. Doski tuh, ibu-ibu yang punya Tiara Handicraft di daerah Sidosermo Indah, Surabaya. Deket sekolahku dulu kala, SMA 16 tercinta, yang mana dulu banyak mantan gebetan yang bersliweran di sono #eh


Oke, back to topic hidayat. Bu Titik ini punya workshop yang bikin tas-tas, tempat handpone, tempat cantolan barang-barang dapur dan macam-macam gitu deh. Produksinya seabrek-abrek, dan di-display di rumahnya. Unyu-unyu dehh… Nah, yang unik dari Jeung Titik ini adalah, hampir semua pekerja yang sibuk menjahit dan sebagainya itu adalah… sodara-sodara kita yang tuna daksa!!!


Nah lho. Eikeh aja yang berbodi komplet dan lebar ini kagak bisa njahit, buw. Hebat amir yah, mereka teteup bisa jahit! 


“Selama ini memang kalangan difabel ini kerap dipandang sebelah mata. Dianggap tidak punya kompetensi dan sebagainya. Karena itu, saya bekali mereka dengan skill menjahit, supaya mereka tetap punya kontribusi,” gitu kata Bu Titik. 


Mungkin banyak di antara kita yang langsung nyinyir. Mosok ndak ada tangan, bisa njahit sih? Gimana caranya njait? Ah, kalopun bisa, pasti hasilnya acakadut.  Sekedar info aja nih, sampe detik ini, saya juga masih mencong-mencong loh, kalo njaitin kancing! “Prestasi” banget kan. #info ga penting

Padahal, sodara-sodara, meski difabel, jahitan mereka rapih-rapih loh. Nggak percaya? 


“Tahu merek Dannis Collections kan? Kami dipercaya owner Dannis untuk memproduksi baju mereka. Padahal merek Dannis kan terkenal banget dengan kualitas yang sungguh rapi…” kata Bu Titik semangat.


*saya tertunduk malu. tambah nginyem*
O iya, soal istilah nih, Bu Titik prefer menyebut mereka difabel. Bukan disable. 


“Difabel itu kan artinya different ability. Kalau disable, artinya nggak mampu atau nggak bisa. Padahal, mereka punya kemampuan, hanya saja berbeda dari orang kebanyakan, yang sering dibilang sebagai orang normal…”


Tapi, kalo si Angkie Yudistia, prefer menyebut “disable”, dengan istilah “thisable”. Artinya, “yang ini juga bisa”. Mirip kan, semuanya?

Yang jelas, mereka sama sekali bukan orang cacat dong. Boleh jadi, beberapa anggota tubuh mereka nggak lengkap. Tapi, semangat mereka 100% complete dah. Sama seperti yang dibilang Ammar Bugis, penulis Buku “Penakluk Kemustahilan”. 

Syeikh Ammar bilang, “Cacat sebenarnya bukan terletak pada kekurangan fisik maupun kelumpuhan jasad. Cacat sesungguhnya adalah cacat dalam cara berpikir. Cacat sesungguhnya adalah cacat hati, cacat tawakkal kepada Allah SWT, juga cacat kemauan.Cacat sesungguhnya, cacat perjuangan,” kata beliau.

#makin ketampar.
Yang jelas, aku lagi daftarin Bu Titik buat jadi salah satu pemenang Kompetisi Danamon gitu. Naskah yang aku posting bisa dibaca di http://ekonomi.kompasiana.com/wirausaha/2013/07/17/titik-winarti-sang-pemberdaya-penyandang-disabilitas--577422.html

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bersyukur

Ayo Tetap Sehat, Jelang Transisi Pandemi Menuju Endemi!

Berdaya dan Berkarya Bareng Komunitas IIDN